Menua.

Bismillahirrahmanirrahim.

Asik. Judulnya agak galau-galau gimana gitu, kan. 17 Agustus tahun ini sayang kalau cuma numpang lewat. Di medsos-medsos saya dipaparkan (bahasa macam apa ini?) oleh semacam anekdot (sebenernya saya nggak ngerti anekdot itu artinya apa ๐Ÿ˜† ); ‘Semoga yang 70-mblo segera menemukan 70-doh’. Oh, jelas, kalau masalah beginian saya akan menjadi manusia terdepan yang mengaminkan. Dirgahayu ya, Indonesia-ku. Saya semacam lupa terakhir kali saya upacara bendera itu kapan, dan hari ini akhirnya, untuk pertama kalinya setelah sekian lama itu saya ikut lagi yang namanya upacara. Pakek jas sneli, statusnya anak koas. Alhamdulillaah~

Di rumah sakit tempat saya koas nggak ada acara hura-hura dan lomba kayak yang marak di mana-mana. Tapi kemaren hari Sabtu, sempet sih saya maen ke Rehab di mana di sana diadain lomba makan kerupuk bareng pasien di sini. Tanpa hadiah, just for fun dan mengingatkan mereka kalau entar lagi HUT RI. Habis peserta kelar tanding, tau-tau ada panggilan untuk para praktikan bertanding. Awalnya cuma perawat-perawat yang lagi ambil profesi dipanggil maju, eh ternyata masih ada spot kosong dan saya dipaksa maju mewakili ‘mbak dokter’. Syedihnya temen-temen saya langsung pada step back kabur semua pas dipanggil dan saya yang kurang peka dengan apa yang terjadi harus rela ditarik maju di depan semua pasien. Yeah. Badan saya paling ‘bongsor’ di antara semua sehingga memudahkan saya untuk makan itu kerupuk di mana mbak-mbak yang lain pada jinjit-jinjit segala. Dan, saya menang. Semua pada sorak-sorak dan bilang kalau ‘Bu dokter laper’. Malu? Iya. Ketahuan deh betapa rakusnya saya kalau urusan makan. Hahaha.

Ih, kok ini postingan pengennya nulis yang melow-melow jadi malah cerah ceria begini.

Saya cuma pingin curcol dikit aja sih soal diri saya. Jadi, semalem itu saya mau ngaku kalau saya habis nangis *hebat, kan, nangis ngaku-ngaku :mrgreen: *. Kenapa saya nangis? Jadi ceritanya saya baru pulang jaga malem, jam 10-an lah kemudian saya rebahan di atas kasur setelah kelar bersih-bersih. Keheningan di sini bikin saya kemudian berpikir banyak banget. Saya bertanya-tanya sendiri kenapa kehidupan saya berbeda banget dari kemarin-kemarin. Saya berada dalam kegamangan puncak. Kemudian saya bangun dan mengamati diri saya sendiri. Sejak kapan saya tidak peduli lagi dengan diri saya sendiri?

Kok saya sekarang terkesan tidak peduli dengan apa yang saya lakuin ke diri saya sendiri. Apa, ya. Kayak nggak ngarep apa-apa lagi ke depannya gimana. Saya ingat dulu, ketika saya berusia 14 tahun, saya pernah berharap waktu berhenti berputar. Saya merasa di kondisi terbaik saya saat usia itu. Tapi di saat yang sama, saya juga ingin cepat-cepat dewasa, karena sepertinya menjadi dewasa itu asik. Dan sekarang, saya sudah jalan 23 tahun. Ada yang bilang, karena setiap hari kita melihat wajah yang sama di cermin dan berada di tubuh yang sama setiap hari, maka kita tidak akan sadar perubahan-perubahan yang ada dalam diri. Dan semalam, saya seperti sadar. Oh, oke. I am getting old.

Saya sadar bahwa saya menua ketika saya melihat sebuah iklan dengan statement, ‘tubuh mulai menggemuk sejak usia 20-an’. Saya sering berkomentar soal bobot tubuh saya yang menurun tapi akumulasi lemak mulai menimbun di sentral alias perut. Dulu saya berat, tapi perut saya kempes luar biasa. Sekarang saya ringan, tapi kenapa buncit begini? Terus saya nangis, deh. Hahaha. Lucu sih. Kan di dunia ini nggak ada yang abadi, ya. Tapi saya kemudian nangis ketika sadar bahwa saya nggak seoke kemarin-kemarin lagi. Dan yang lebih menyedihkan, saya nggak peka dan nggak peduli dengan perubahan itu.

02956692bbe7bbb745e9d69e7e564ade

Saya kemudian sadar lemak tubuh mulai ada di sana-sini. Ketika saya luka atau berjerawat, kulit saya tidak secepat dulu kembali bersih tapi alih-alih demikian malah meninggalkan bekas bercak cokelat yang membuat kulit saya tidak indah. Kulit saya mulai sensitif dan sering kering ditambah banyak garis-garis seolah-olah saya ini wanita tua yang banyak keriputnya. Kulit kaki saya mulai pecah-pecah. Di ujung samping mata saya sudah mulai ada garis-garis samar. Di gigi saya mulai muncul bakal jadi lubang. Saya jadi gampang alergian. Terus, sejak kapan saya tidur mendengkur (mungkin karena amandel saya yang juga membesar). Perubahan-perubahan itu yang kemudian membuat saya kepikiran. Terus, saya harus gimana?

Sebenernya hal yang bikin saya kepikiran itu beralasan. Di tengah kehidupan hedonisme yang kayaknya lagi gencar-gencarnya, saya bersaing dengan perempuan-perempuan seusia saya yang berlomba ‘mempercantik’ dirinya. Ketika yang lain saling pamer makeup yang membuat mereka bening syekaleh, saya masih kayak gini aja bahkan nggak peduli kalau saya keluar rumah tanpa polesan apapun. Saya nggak bohong. Tanpa apapun. Padahal sama seperti mereka, saya pun istilahnya sedang ‘mencari-cari potongan puzzle‘ saya yang hilang. Dan tentu saja, kalau saya begini terus maka saya akan kalah saing dengan mereka. Jodoh nggak akan ketuker sih, memang. Tapi kenapa saya tetep aja kepikiran. Ih, saya lucu deh, jadi pingin gigit *loh*.

Penyakit minder saya nih udah kronis. Justru karena melihat perubahan dalam diri saya, saya bukan malah berusaha untuk memperbaiki; misal, kurangin pecicilan biar nggak sering luka, mulai ngerawat diri kek atau makan yang bener biar badan sehat, saya malah pesimis dan berpikir ya udah sih gue mah emang begini nggak ada yang mau, dan jadilah saya terjebak di tengah bungkusan makanan ringan dan cokelat yang bikin saya ketagihan. Saya juga nggak lagi peduli misal saya bawa motor siang-siang tanpa sarung tangan. Ya, begitulah. Syedih.

Biarkan tulisan ini digantung seperti ini saja. Udah buntu ini mau nulis apa lagi. Hahaha.

Iklan

17 responses to “Menua.

      • Teteh juga eh Bunda juga termasuk yg telaaaat ngerawat wajah non, setelah usia 30 lebih baru inget hihi
        Sptnya sih bagusnya nih, kalau malam mau tidur, setelah cuci muka, wudhu, kasih krem malam gitu, coba lihat hasilnya pagi2 setelah cuci muka.. lembut gitu kulit wajahnya.
        Ya ini juga kalau ngga lupa siiiih heuheeuu…

        Sesekali ambil baking soda, campur madu, gosokkan pelan2 ke muka, biarkan sebentar, lalu bilas air hangat, bikin muka bersih dan halus lhooo…

  1. Harusnya kerupuknya bu dokter ditinggiin lagi lah.. ๐Ÿ˜€
    Biar adil sama-sama susah sampe jinjit-jinjit buat makannya. Hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s