Koas di Madiun.

Bismillahirrahmnirrahim.

Yuhuuu.. selamat hari minggu dari kota Gadis (awalnya saya ngira beneran dijulukin kota Gadis karena di sini banyak Gadis, eh ternyata gadis teh singkatan dari perdagangan dan industri, cape deh! 🙄 ). Kalau ada yang nggak tau kota gadis itu di mana (karena saya juga awalnya tidak tau :mrgreen: ), silahkan googling. Hahaha. Sok misterius deh gue. Madiun. Yes, I am in Madiun now and I’ll live here for the next 17 months. Wohooo! Madiun adalah kota ke-5 setelah Sorong – Indramayu – Bogor – Yogyakarta.

Saya nggak pernah nyangka bakal tinggal di kota ini. Sebelumnya saya tau sih ada tempat koas di Madiun, tapi yang saya tau dari desas-desus yang beredar cuma soal bahwa rumah sakit tempat koas di Madiun itu horornya amit-amit dan teramat dihindari karena (katanya) dokter pembimbingnya killer maksimal. Tapi pikiran saya waktu itu malah pinginnya koas ya di Madiun, karena (katanya lagi), RSUD di Madiun merupakan salah satu Rumah Sakit Pendidikan terbaik yang ada di jagat raya (iya, ini gue sih lebay aja 😆 ), selain Sardjito yang emang lebih terkenal. Hahaha. Karena sifat visioner gue (apa sih), jadilah saya berharap oke-entar-gue-maunya-koas-di-madiun dalam rangka menuntut ilmu yang ‘lebih’. Karena katanya Rumah Sakit di Madiun itu oke, otomatis kasus-kasusnya lebih banyak yang kemudian akan membuat saya menjadi dokter yang lebih ‘berbobot’. Semoga saja deh ya. Aamiin.

img1433654769925Hari pertama keliling Madiun dan diabadikan deh, cekrek!~

Sebelum lanjut cerita tentang rumah sakitnya dan kota Madiun yang aduhai penuh kejutan, saya mau cerita-cerita dulu soal acara Janji Dokter Muda tanggal 27 Mei kemarin. Nggak ada apa-apa sih, cuma rasanya masih nggak percaya dan berpikir lagi oh-my-god-Fath-seriously-you-wanna-take-this-way *apasih*? Dari awalnya masih setengah hati masuk kedokteran, menjalani perkuliahan tanpa gairah, lucunya bisa lulus cepet dengan predikat baik itu kan sesuatu. Kekuatan yang senantiasa membuat saya bertahan adalah ucapan Ibuk saya.

Allah itu selalu memilihkan jalan yang terbaik untuk kita, bukan sekedar yang kita inginkan. Mungkin menjadi dokter adalah yang terbaik kata Allah..

Emangnya bener gitu? Ah, saya mah orangnya juga lempeung aja, nggak suka tawar-menawar soal hidup *eceileh*, dan ketika saya dihadapkan oleh tawaran apakah saya mau lanjut koas atau tidak, hati saya malah lebih condong ke melanjutkan koas, padahal tadinya saya pingin berhenti saja dan melakukan apa yang saya suka. TAPI. Yes, tapi. Saya kemudian berpikir ulang bahwa, Fath, di mana rasa syukur kamu? Banyak orang yang mau ada di posisi saya dan kemudian saya mau membuang kesempatan itu jauh-jauh? Bukan, bukan soal memaksakan diri, tapi soal berpikir dua kali. Ini ujian, sesungguhnya. Saya bisa. Dan kesempatan terbuka. Apa saya mau hanya mengeluh dan menjalankannya setengah hati? Hingga pada suatu hari di titik puncaknya, ibarat depolarisasi dan BUM! Repolarisasi, dan Allah mengambil semua nikmat itu, lantas bagaimana? Iya, gue lebay. Terlalu religius? Whatever. Jika ini memang yang terbaik, mungkin ini cara Allah ‘membantu’ saya untuk meraup pundi-pundi pahala yang who-knows, suatu hari akan menyelamatkan saya di akhirat kelak. Saya nggak tahu dan tidak bisa menjamin. Tapi saya kemudian berpikir ulang dan menata lagi niatan saya menjadi dokter. Dan yaaa, bismillaah.. semoga Allah meridhoi dan memudahkan. Aamiin!

Ada hal-hal yang saya syukuri dari apa yang terjadi dalam hidup saya. Dari awalnya saya bingung kenapa saya kuliah di UII, kedokteran pula. Dan oh, ternyata saya masuk ke salah satu dari FK yang baik. Di salah satu Universitas terbaik pula. Yang membekali kami, para calon dokter tidak hanya sekedar ilmu dunia tapi beneran deh, agama pun dijejelin secara maksimal. Saya yakin nggak ada kampus lain yang 7 semester full wajib mentoring, wajib hafal juz 30 sebelum lulus, selain harus lulus ujian predik sebelum koas, kita juga harus lulus OSCE keislaman, dan BAHKAN, sampai koas pun kita masih diberi log book keagamaan dan wajib mentoring. Dan, tiap stase ada setoran hapalan surat dan ujian keislaman serta korelasinya dengan dunia kedokteran. Alhamdulillaah..

Ini kenapa tulisannya jadi promosi FK UII dah. Hahaha.

Saya lupa pas janji dokter muda kemaren itu sambutan dekan dan wakil rektor isinya apa, tapi saya inget bahwa sambutan mereka sempat ‘membangunkan’ semangat saya dan membuat saya ngomong dalam hati ke diri saya sendiri; mulai hari ini gue harus jadi dokter yang baik.

IMG_1623

IMG_1648

Dan, jeng – jeng – jeng! Impian saya untuk koas di Madiun pun terkabul. Semua orang berkata bahwa kami beruntung karena RSUD Soedono Madiun adalah salah satu rumah sakit pendidikan terbaik, di mana dokter pembimbingnya berkualitas dan merupakan rumah sakit rujukan di seluruh karasidenan Madiun (which are Ngawi, Pacitan, Magetan, etc.), sehingga.. entar kita bakal ngedapetin banyak kasus yang ‘nggak biasa’, dan semoga itu membuat pengalaman kita semakin banyak dan semakin pintar dan semakin baik nanti ketika menjadi dokter. AAMIIN..

And sometimes, the reality isn’t as beauty as the expectancy.

Seminggu berada di Madiun dan menjalani koas selama 6 hari kerja; tetot! Talk to my hand about keoptimisan yang sudah saya bangun dengan susah payah selama ini. Udah mah saya orangnya parnoan, takut ini takut ini padahal kasus-kasus kanker dan infeksi merajalela di rumah sakit, membuat saya berpikir macam-macam. Hari pertama, capek. Padahal baru stase yang tugasnya ‘cuma’ nongkrong di poli, ngeliatin dokternya nanganin pasien (karena kita belum boleh megang alat dan meriksa di minggu ke-1) dan pulang cepet. Temen saya banyak yang udah langsung masuk stase besar macam kandungan dan bedah; rasanya menye-menye banget kalau saya udah ngeluh. Denger cerita dari temen-temen kalau mereka udah langsung ditugasin jaga selama tiga hari berturut-turut, udah disuruh melakukan pemeriksaan fisik ke organ dalam pasien, cerita kasus ini kasus itu; sumpah ya, bikin kepala saya pening. Dan puncaknya adalah ketika dua hari lalu Ibu saya pulang ke Bogor dan saya kembali seorang diri DAN kebetulannya saya dapet pasien dengan nanah yang keluar dari leher dan tugas pertama kita adalah merawat lukanya; saya mual. Beneran mual. Makan nggak nafsu dan langsung (lagi-lagi) parnoan ini itu. Gastritis saya kumat dan kayaknya asam lambung melimpah ruah karena faktor stres. Stres kenapa coba 🙄 ?

Sejujurnya, saya takut. Oke lah, saya bisa menyerap teori-teori dari buku dengan baik, tapi sesungguhnya untuk aplikasi saya ini enol besar. Apa-apa takut, apa-apa nggak berani, apa-apa nggak tega. Saya berkali-kali udah berlinang airmata karena ‘kasian’ ngeliat pasien, tapi saya juga merasa nggak berguna banget saat saya cuma bisa ‘melihat’ tanpa bisa berbuat apa-apa.

Fakta lainnya adalah, saya akhirnya ragu bahwa saya bisa bertahan sampai akhir. Salut untuk semua orang yang sudah dengan suksesnya menjadi dokter, karena bagi saya semua proses itu tidak mudah.

Duh, saya ampek bingung mau berkata-kata apa lagi. Yang pasti selamat datang di dunia yang sesungguhnya. Harus tergopoh-gopoh berangkat pagi untuk visite pasien, tersenyum di saat tidak ingin tersenyum, bertele-tele saat rasanya ingin blak-blakan dan ngamuk aja, begadang buat ngerjain presentasi dan laporan, tunduk-tunduk dimarahin ama konsulen dan menahan emosi diri sendiri, tenggang rasa ama temen sekelompok, mementingkan kebersamaan dibanding kepentingan sendiri; pokoknya hal-hal yang rasanya nggak gue banget. Selamat menjadi kasta terendah seantero rumah sakit, katanya. Dan rasanya memang benar, hahaha. Di sini mental kita bener-bener diuji deh.

Dan pada akhirnya, masalah saya akan menyelesaikan pendidikan klinik saya atau ‘harus’ saya akhiri; rasanya terlalu dini kalau saya sudah memutuskan. Mari kita coba dulu, siapa tahu witing tresno jalaran soko kulino?

Di atas semuanya, saya memohon kepada Allah semoga kami semua senantiasa diberi perlindungan dari hal buruk dan tetap diberikan kesehatan. Aamiin.

Iklan

9 responses to “Koas di Madiun.

  1. rindu, tapi gak untung mengulangnya

    tapi kayanya hampir semua anak FK pernah mengalami masa “salah jurusan kayanya gue”

    eh, anak UII yang bareng aku pas iship juga tiap kamis selalu ngadain pengajian rutin, semoga makin istiqomah yak.. ga ada yang suka nakal lepas kerudung lagi, hihi

  2. Iya harus banyak-banyak bersyukur..banyak yang pengen jadi dokter tapi tidak diterima di perguruan tinggi.. 🙂

    Btw, kalau masih S.Ked itu masih terhitung “dokter umum” ya? Apa sudah sedikit spesialis?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s