Grand Canyon Rasa Lumpia.

Bismillahirrahmanirrahim.

Ketika membaca judulnya mungkin langsung terbersit kata, ‘serius?’. Saya tidak main-main ketika memilih kata-kata tersebut, karena di Indonesia memang ada Grand Canyon. Lebih tepatnya, mini Grand Canyon di kota Lumpia, Semarang.

***

Sebut saja suatu hari ketika hasrat ngebolang saya akhirnya menagih-nagih untuk dipenuhi, saya ditawari oleh beberapa teman saya yang terkumpul dalam grup ‘Babi Betina’ (karena itu grup isinya orang-orang yang suka makan :mrgreen: ) untuk pergi ke Semarang. Walaupun sudah tinggal hampir 4 tahun di Yogyakarta, sepertinya saya belum pernah berkunjung lagi ke Semarang dengan tujuan bermain. Maka, tawaran indah bak oase dari surga itu langsung saya amini dengan semangat. Berdasarkan itenerary yang sudah disusun dengan pelik dan cukup seksama, maka diputuskan bahwa kami akan berangkat dengan tujuan utama ke Umbul Sidomukti yang katanya terkenal dengan pemandangan gunung yang cakep. Kalau berdasarkan foto-foto yang temen saya upload di medsos-medsos sih ya bisa dibilang ‘menggiurkan’ apalagi tempat itu kayaknya memang khusus untuk mengabadikan momen pas sunrise. Jadilah kami berlima, cewek tangguh yang masih pada jomblo, berangkat menuju TKP ketika larut malam. Lah, katanya Grand Canyon? Kok malah jadi gunung? Sebentar, cerita belum selesai.

***

Cerita di Umbul Sidomukti bisa diskip karena inti dari tulisan ini memang bukan ngebahas tempat yang satu itu. Istilahnya, saya berangkat ke Semarang itu memang modal badan ama nekat doang, karena rencana dan realisasinya bisa dibilang dadakan. Berbeda dari biasanya, saya nggak searching apapun soal Semarang; misal tempat apa aja yang recommended untuk didatangi atau makanan apa yang worthed untuk dicicip. Saya pakek prinsip ‘bang-bawa-adek-kemanapun-abang-pergi’ dan cenderung pasrah digeret-geret kemana ama temen saya yang bawa mobil. Karena otak temen saya itu udah kayak peta, tiba-tiba doi ngomong, ‘Eh, ke Brown Canyon, yuk!’. Saya cuma pasang tampang ‘eh-itu-kok-kedengeran-enak-kayak-nama-cokelat’ sebagai respon ajakan dia. Yang lain sih juga sama pasrahnya, karena kita memang udah mikir dari awal yang penting jalan. Pas ditanya, ‘Lo tau tempatnya di mana?’, doi cuma nyengir sambil masang tampang muka sotoy minta ditoyor, ‘Gampang lah bisa nanya..’, yang disambut dengan tatap muka ‘minta-ditelen-idup-idup-banget-ya-lo’ oleh cewek-cewek murka. Intinya, kalau kalian ngaku anak bolang yang hobi jalan-jalan, walaupun nggak tau tempat yang dituju itu ada di belahan dunia mana, terobos aja! Selama masih bisa baca tulis dan punya mulut, 99% kita mesti nyampek ke tujuan. 1% nya lagi izin dari Allah yang memegang peran kunci. Cling! Oke fiks ya, tujuan wisata alam kita di Semarang kali ini adalah Brown Canyon, yang belakangan saya ketahui bukanlah nama cokelat, tapi nama suatu tempat yang katanya mulai hits beberapa bulan kebelakang. Tempat ini bukan secara sengaja dijadikan tempat wisata, tapi karena awalnya ada salah satu anak manusia yang posting fotonya di sana ke medsos, akhirnya tempat itu jadi ikutan beken.

***
DSC_0091_2Pemandangan Brown Canyon dari kejauhan. It’s a sign that you’re in the right path ๐Ÿ˜‰

DSC_0095_1[1]Salah satu sudut Brown Canyon in Panoramic.

Kata siapa ke Brown Canyon yang penting modal baca tulis dan mulut doang? Iya sih, pada akhirnya kita sampai ke sana, tapi siapa sangka, alih-alih mengharapkan pemandangan indah hijau dengan angin sepoi-sepoi, kita justru disambut padang pasir dan bebatuan. Yaiyalah, namanya juga Brown! Tips kedua untuk pergi ke Brown Canyon adalah cari spot duduk senyamannya dan untuk yang lagi encok sangat amat tidak disarankan ke sana ๐Ÿ˜† . Modal tulang punggung juga, bo’! Jalan menuju ke TKP bisa dibilang ‘goyang dombret’ alias off-road abis. Di kanan kiri jalan jangan pernah mengharapkan pemandangan abang-abang jualan es cendol, karena yang ada hanya kegersangan dan kehampaan seperti hati para muda-mudi yang jomblo dan kesepian *tuhkan salah fokus* ๐Ÿ˜€ . Dedaunan dan jalan tertutup pasir warna cokelat. Jadi ceritanya, di sana itu adalah tempat penambangan pasir, pantes aja sejauh mata memandang yang terlihat cuma butiran debu dan bebatuan.

Walaupun rute perjalanan menuju ke sana bikin hati kebat-kebit, tapi menurut saya worthed! Kenapa? Ternyata pemandangan di sana sooo magnificent! Dari kejauhan aja udah keliatan tebing-tebing batu yang jangkung-jangkung, bikin saya riang gembira dan nggak sabar menuju TKP. Jalurnya bisa ditempuh baik dengan mobil maupun sepeda motor, walaupun saya bakal mikir-mikir lagi buat ke sana kalau pakai motor matic. Soal biaya masuk, saya sebenernya nggak terlalu ngerti ya gimana. Tapi ini hal yang paling disayangkan; terlalu banyak pungutan liar. Memanfaatkan kondisi tempat tersebut yang akhirnya dijadikan tempat wisata, saya dan rombongan sempet kena tagih biaya masuk dua kali. Pertama pas masih jauh dari lokasi, diberi tiket masuk dan kalau nggak salah kena sekitar 10 ribu. Nah, pas udah nyampek di lokasi, kita malah ditagih lagi ama rombongan pemuda yang maksa minta bayar 15 ribu, plus kita dihadiahin omelan. Ya udah sih, anggep aja amal ๐Ÿ™„ .

1422173274777

1422173286239

1422173978020

DSC_0111_2[1]

DCIM100GOPROGOPR1054.Kalau ditanya di sana ada apa aja, saya bisa jawab, di sana nggak ada apa-apa. Nggak ada warung-warung yang jualan pop mie ataupun kamar mandi; karena itu tadi, Brown Canyon ini baru aja nge-hits. Tapi, bagi orang-orang yang suka fotografi, jelas ini lokasi yang tepat. Banyak spot bagus yang bisa bikin kita nggak akan puas ngambil foto cuma sebiji dua biji. Pas ke sana juga saya ketemu ama orang yang lagi foto pre-wed,ย jadi yang mau ambil tema foto pre-wed yang anti mainstream; misal sambil guling-guling di pasir atau terjun dari tebing :mrgreen: , saya cukup bisa merekomendasikan tempat ini. Siapapun yang ke sana mesti setuju bahwa Brown Canyon ini bisa jadi semacam jelmaan Grand Canyon di Colorado sana. Walaupun dalam versi yang jauh lebih mini. Tips ketiga, jangan lupa pakai masker, karena udara di sana sangat amat berdebu dan anginnya ‘gelebuk’ abis, bikin baju dan jilbab kewer-kewer, bahkan saya yang berbobot 60 kilo baru kali ini berasa mau diterbangkan angin.

Untuk detail mengenai ‘how to get there‘-nya, jelas saya tidak bisa menjelaskan secara pasti karena waktu kemarin itu saya dalam posisi disupirin dan nggak tahu sama sekali mengenai Semarang. Tapi, karena saya cerdas, maka dari hasil pertapaan saya di google, diketahui bahwa Brown Canyon ini terletak di Jalan Rowosari Krajan, Semarang. Untuk mencapai ke sana, bisa melalui jalan Fatmawati (daerah Pedurungan). Terus saja ikuti jalan, dan tanya ama orang sekitar di mana letak RSUD Kota Semarang (daerah Ketileng). Setelah ketemu RSUD-nya, cari jalan menuju ke kompleks perumahan daerah Klipang. Ketemu yang namanya Klipang Golf, terus saja sampai ketemu perempatan di mana ada jembatan di sebelah kiri jalan, lalu belok kiri, lewati jembatan, terus belok kanan, dan lanjut saja terus ikuti jalur dan kemana angin membawa ๐Ÿ˜€ . Sekitar 2 kilometer setelah itu, bakal mulai kelihatan dari kejauhan pucuk-pucuk tebing yang menjulang tersebut.

… selanjutnya, just have fun! Saya saranin datang di sore hari, karena nggak kebayang panasnya tempat itu pas siang-siang. Jangan lupa bawa perlengkapan foto yang paling oke, biar bisa diaplot di medsos dan bikin iri yang lain. So, nggak usah jauh-jauh kan buat ngeliat Grand Canyon? ๐Ÿ˜‰

___
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Visit Jawa Tengah Periode 1. Semoga menang! Aamiin ๐Ÿ˜€

1 Banner Jan-Feb 2015

Iklan

18 responses to “Grand Canyon Rasa Lumpia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s