[PREVIEW SUPER PANJANG] After 5 years..

Bismillahirrahmanirrahim.

Holiday is officially over! Danย  saya resmi menjadi manusia tingkat akhir yang dihadapkan pilihan hendak lulus tepat waktu atau tidak. Haven’t decided yet whether I’ll continue to the ‘koas’ phase atau skip dan langsung kuliah S2 di luar negeri. Yeah. Don’t ask me about ‘kapan nikah’, which oh my god saya sedang tidak memprioritaskan pernikahan. Sekarang malah saya lebih teriming-iming untuk mencapai tingkat pendidikan setinggi-tingginya di usia belia. Oke. Saya tidak pernah ikut kelas percepatan, et causa orangtua yang menganggap bahwa sekolah sesuai usia dan kematangan adalah yang terbaik (saya mahasiswa semester tujuh dengan jiwa anak SMP labil), tapi tidak ada salahnya saya SECARA SADAR melakukan percepatan di bangku kuliah. Rencana indah saya soal sekolah terus, lulus S.Ked saya mau langsung lanjut S2, terus habis dapet master saya mau langsung ambil S3. Itu rencana indahnya (entah terealisasi atau tidak). Selanjutnya, well, dulu saya nggak pernah berpikiran menjadi wanita karir dan sekarang saya gatel pingin banget kerja kantoran. Aneh tapi nyata.

Kuliah ke luar negeri. Lucuk dan konyol. Dipisahkan jarak Bogor – Yogyakarta ama orangtua aja saya udah menye-menye, lah ini ke luar negeri? Awalnya saya pingin banget lanjutin S2 di Jepang. Wis embuh jurusan apa pokoknya saya ke Jepang. Titik. Kemudian muncul opini tentang lanjut kuliah di Singapura. Iya, Singapura yang tetangga kita itu.

Setelah membujuk rayu Ayah Ibuk dan masang tampang muka melas, serta dengan beribu argumen ‘Paspor 5 tahun terakhir saya kosong melompong dan cuma ada 1 cap’, setelah memperpanjang dan memiliki paspor kedua terhitung sejak bulan Maret, saya minta jalan-jalan. Sebenernya saya nggak yakin Ayah Ibuk ada uang atau enggak; berhubung semester baru harus bayar uang kuliah saya, adek saya dan Ayah saya. Awalnya rencana tinggal rencana, sampai seminggu sebelum kepulangan saya kembali ke Yogyakarta, permohonan saya dikabulkan! Ayealeale. Opsi opsi dipaparkan. Saya sebenernya pingin ke Singapur, karena alasannya sepele, pingin ke Universal Studio. Ayah memberikan pilihan ke Malaysia, alasannya pertama karena saya belum pernah ke sana dan kedua lebih murah, wk! ๐Ÿ˜† Dan entah bagaimana keputusan akhirnya tetap ke Singapur. 5 tahun lalu saya pernah ke negara itu, bertiga hanya dengan Ayah dan adek saya via batam dan nyebrang pakek kapal. Jadi saya nggak pernah tau wujud bandara Changi yang cukup dielu-elukan karena kemoderenannya. Memori di sana tidak banyak membekas dan hanya bersisa beberapa, syukurnya memori yang menyenangkan. Jadilah setelah 5 tahun yang lalu, tahun ini saya bisa kembali menyambangi negara itu dan merupakan kali kedua saya ke luar negeri. Alhamdulillaah ๐Ÿ™‚ .

Persiapan untuk ke sana bisa terbilang cepat. Biaya yang paling besar itu pastinya adalah akomodasi. Compare harga tiket pesawat antar maskapai dimenangkan oleh Lion Air. Seorang kena 1 juta PP. Jadi bertiga total 3 juta lebih dikit. Jangan tanya harga Garuda, ditotal bertiga itu kena 7,6 juta. Sedangkan Air Asia, lebih mahal dari Lion Air, belum ditambah biaya bagasi. Saya sebenernya trauma naik Lion karena ada ‘kenangan buruk’ tersendiri. Tapi didesak oleh kebutuhan dan merasa aman karena tidak sendirian, saya bismillah saya dan banyak berdo’a. Sebenernya kata temen saya Lion Air kadang bisa lebih murah dari itu, tapi ternyata, pas saya berangkat kemarin itu saya baru tau kalau ternyata di Singapur tanggal 19-21 September mau ada F1 yang bakal nguuung-nguuung di sepanjang jalan Marina Bay. Sooo, turis around the world pada berdatangan daaan harga tiket pada melambung karena istilahnya apa ya, peak season? Wes embuh ngono. Dan orang bule juga pada lagi libur musim panas, jadi di mana-mana bule bertebaran.

Untuk hotel, karena 5 tahun lalu perjalanan ke Singapur selama 5 hari itu pure diarrange oleh Ayah dan anaknya diem aja ngintil, tahun ini cukup berbeda. Saya, Ibu dan Ayah cukup kompak mencari-cari hotel yang cukup nyaman dengan akses yang mudah. Kata Ayah nggak masalah milih hotel agak mahalan karena udah ngehemat di tiket pesawat. Semua nggak pada tau apa-apa kecuali dengan mindset bahwa Orchard rd. adalah pusatnya Singapur, dan akan sangat membahagiakan kalau kita bisa nginep di dekat jalan tersebut, suatu keputusan yang kita sesali pada akhirnya. Setelah bertapa di agoda, akhirnya diputuskan bahwa kita akan menginap di hotel York, hotel bintang 4 yang berlokasi di jalan Mount Elizabeth, persis sejajaran dengan Rumah Sakit Mount Elizabeth yang terkenal itu.

Berhubung saya ‘ngidam’ ke USS, akhirnya kita memutuskan untuk memesan tiket USS via online. Ternyata, beli tiket USS online itu lebih murah ketimbang beli langsung. Per orang jatuhnya 68 dolar sg dengan kurs rupiah terhadap S$ ada 1S$ = Rp 9300-an (5 tahun lalu saya ke Singapur masih 6500, bok!). S$ 68 itu kita dapet S$5 buat makan dan S$5 buat belanja di toko-toko souvenir di dalam USS (jangan ketipu, kuponnya bisa dituker dengan minimal sekali transaksi itu S$35! Akhirnya 3 kupon malah nggak kepakek sama sekali ๐Ÿ™„ ). Sedangkan kalau beli langsung di booth tiket di USS-nya, udah mah ngantri dan harganya lebih mahal yaitu S$74.

5 tahun lalu, kita keliling Singapur itu murni pakek taksi. Ya mungkin karena taun itu juga koneksi internet belom seheboh sekarang, jadi apa-apa dicari seadanya aja. Berpikir gimana caranya kita bisa keliling Singapur hemat tanpa harus pakek taksi yang sekali jalan aja bisa merogoh kocek yang kalau dirupiahin bisa ampek seratu ribuan (oh, nilai rupiah membaiklah!), saya googling tentang MRT. Transportasi umum di Singapur kan terkenal banget yak, jadi saya penasaran gitu pingin nyoba naik. Saya dapat info kalau ada yang namanya EZ-Card khusus buat turis. Jadi, EZ-Card ini bisa dipakek sepuasnya. Ada pilihan kita mau milih buat naik MRT berapa hari; pilihannya 1 – 2 – atau 3 day pass. Harganya tergantung berapa harinya itu, kalau sehari S$8, kalau 2 dan 3 hari hitung kelipatannya aja.

Persiapan selesai. Saya bener-bener excited nunggu hari keberangkatan. Semalam sebelum keberangkatan saya berhappy-happy ria packing dengan Ibuk. Senengnya itu dobel, pertama karena akhirnya ke luar negeri lagi setelah 5 tahun (norak, biar :mrgreen: ) dan kedua karena saya berasa anak tunggal dan ini merupakan perdananya saya jalan-jalan diapit Ayah Ibuk. Adek saya berhubung kuliah di kampus lain, jadinya udah kuliah dari akhir Agustus. Hihihi.

DSC_0226Ahad pagi, tanggal 14 September, berangkat lah kita shubuh-shubuh pakek taksi ke bandara. Meluncur dengan mulus di terminal 2D bandara Soekarno-Hatta pukul setengah 7 kurang. Ngantri buat check-in Allahu Akbar lamanya. Saya sebenernya udah gelisah karena kebayang harus naik pesawat. Oke, sekedar intermezzo, saya baru tau kalau saya ternyata fobia naik pesawat. Sebenernya saya dulu sukak banget naik pesawat, sampai akhirnya kenangan buruk datang dan saya jadi gelisah tiap mau naik pesawat; malamnya nggak bisa tidur dan mesti parno dan mikir yang macem-macem. Cuma, karena alasan kebutuhan dan nggak mungkin juga saya ke luar negeri pakek perahu (mau kapan nyampeknya!), mau gamau saya harus mau. Setelah check-in, saya pun resmi masuk terminal 2D. Baru kali itu saya liat bandara bagian keberangkatan internasional yang ternyata lumayan rapi, bersih, nyaman dan ‘warna-warni’. Norak lagi kan ๐Ÿ˜† . Ngelewatin bagian imigrasi dengan mulus dan resmi mendapat cap pertama di paspor yang baru, saya yang kelaparan dan harus makan obat akhirnya kita ‘ngaso’ dulu di suatu tempat makan (yang mahalnya nggak ketulungan). Kejadian ‘seru’ lain adalah, setelah kelar makan dan masih tersisa 1 botol air mineral ukuran kecil dan harganya 18 ribu (catet!), saya taro di tas, nah sebelum masuk ruang tunggu itu harus ngelewatin pemeriksaan lagi kan, dengan dodolnya saya lupa kalau ini keberangkatan internasional yang NGGAK BOLEH BAWA CAIRAN KE KABIN. Dan air mineral termahal sejagat itu harus rela diserahkan. Saya baru mudeng kenapa nggak diminum dulu sebelum dikasihin ke petugas. Rawr! Ibuk saya cuma ketawa-ketawa aja.

Nunggu sebentar di ruang tunggu sambil ngisi selembaran imigrasi yang nanti diserahin di bagian imigrasi Changi, agak ngaret dikit kita pun naik pesawat. Saya udah dag – dig – dug ser. Mikir macem-macem ini kalau pesawat kenapa-napa di dunia bakal tersisa adek saya sebatang kara (getok meja). Keberangkatan mulus, dan saya sepanjangan jalan keringet dingin nggak bisa tidur. Ayah Ibu saya udah dengan tenang tertidur, saya dikit-dikit merinding disko kalau pesawat keguncang (salah satu hal yang paling dibenci kalau naik pesawat!). Saya dikit-dikit nanya udah jam berapa, dan ngerasa ohmaygat ini kenapa gak nyampek-nyampek. Singapur lebih cepat 1 jam dari Indonesia, jadi nyampek-nyampek di Singapur udah hampir jam 12 aja.ย  Sesaat sebelum mendarat karena di Singapur lagi mendung, pesawat sempet ‘aserehe’ dikit, itu rasanya merinding dari kaki ampek kepala saya udah pucet aja. Alhamdulillaah, mendaratnya mulusss bahkan Ayah saya yang udah banyak naik pesawat ampek ngacungin jempol. Dan saya officially sampai di Changi! Wohooo!

DSC_0229

DSC_0230… ternyata Changi itu, cakep! Selain kekurangannya adalah di toiletnya nggak ada air ๐Ÿ˜† , sisanya cakep-cakep semua dah! Tata ruangnya, warna-warnanya, kebersihannya. Jujur, saya terperangah. Sempet foto dulu ama Ibuk dengan latar pesawat SQ yang guedeee banget, yo mari norak yo. Pas mau ke bagian imigrasinya gitu kan turun pakek eskalator, set dah, lantainya kinclong abis! Saya borong semua map singapur yang tersedia di sebelah kanan dari kita turun eskalator (sumpah, mapnya menolong banget bagi yang mau ngebolang dengan MRT dan jalan kaki). Dan gate imigrasinya cakep bener dan petugasnya ramah-ramah. Bukan mau ngebandingin dan nggak sayang Indonesia, tapi saya pingin banget petugas imigrasi Indonesia tuh ramahan dikit. Jangankan ke orang Indonesia, ke warga asing aja mereka acuh tak acuh (sempet ngeliat sendiri warga negara asing bingung setelah disuruh ngurus ‘sesuatu’ oleh petugas dan nggak bisa lewat), padahal itu bisa jadi salah satu cerminan negara kita. Duh, miris. Petugasnya ngelarang buat foto-foto ya okelah itu emang peraturan. Pas dicek paspor, di sana kita malah ditawarin permen dan dikasih senyum. Saya nggak ragu ngasih nilai excellent di layar yang tersedia setelah kita lolos pemeriksaan. Canggih!

Berhubung saya jadi fakir wifi selama di sana, saya nyoba buat akses internet dan pakek fasilitas free wifi Changi. Sebenernya memang ada, jadi kita suruh masukkin beberapa data dan nomor hape. Nanti disms password gitu dan kita kudu confirm dan barulah bisa berselancar internet. Berhubung saya baru dateng dan masih ha-hi-hu-ho bingung atas semua kecanggihan yang ada, jadilah saya nggak sempet makek fasilitasnya itu. Setelah ambil bagasi, saya kemudian teringat untuk beli EZ-Card buat naik MRT yang sedapet saya itu salah satu boothnya ada di Changi. Sebenernya di beberapa station MRT tertentu juga ada katanya, tapi saya mikirnya daripada ribet yaudah sih sekalian aja. Letak boothnya itu ada di bagian bawah dari bandara, bisa tanya ke petugas bandara yang baek-baek amat.

Unfortunately, tiket EZ-Card for tourist yang kita harap-harapkan sold out! Preketeeek. Opsi lainnya adalah Singapore Tourist Pass yang PLUS (STP+). Apakah itu? Sebenernya sama aja, kita bisa naik transportasi umum berupa MRT, bis dan SRT sepuasnya, tapi harganya lebih mahal. Untuk 3 hari pertiketnya itu S$30 alias 280 ribuan, tapi.. selain bisa naik fasilitas tiga tadi sepuasnya, kita dapet fasilitas tambahan berupa gratis naik Bubble Jet Ride (kayak boat gitu buat keliling Marina Bay) dan Funvee Bus Tour (bis sightseeing yang membawa kita keliling kota di atas bis dengan atas terbuka, kayak artis gitu bisa dadah dadah ke orang di jalan hahahaha ๐Ÿ˜† ). Jangan lupa untuk ambil buku panduan yang di dalemnya ada rute-rute MRT. Aseli itu sangat amat menolong. Pahalanya banyak deh ah yang ngebuat MRT, bener-bener kendaraan sejuta umat yang membuat semua urusan jadi mudah. Kalau saya menyarankan daripada ngalor ngidul kemana-mana pakek taksi (kecuali duitnya emang nggak ada serinya :mrgreen: ), naik MRT adalah pilihan tepat. Selain cepat, on-time dan jadi seperti pintu kemana sajanya Doraemon, naik MRT mau nggak mau ngebuat kita jadi banyak jalan dan melihat Singapur sampai detil terkecilnya. Ibarat kata kalau kita naik taksi cuma numpang lewat tapi kalau naik MRT kita jadi bisa nemuin tempat yang mungkin nggak common dan nggak ada di buku-buku guide perjalanan.

DSC_0231Setelah kelar dengan urusan per-MRT-an, sebenernya bisa aja kita langsung naik MRT untuk sampai ke hotel dari stasiun MRT Changi. Tapi berhubung gembolan kita udah kayak mau ngungsi dan belum familiar ama keadaan sekitar, kita memutuskan untuk naik taksi. Terhitung di Singapur kita ‘cuma’ 3 kali naik taksi; pertama, pas pertama dateng dari bandara ke hotel (habis S$20 include tip), kedua pas udah capek banget jalan dan kebayang harus naik MRT lagi akhirnya kita naik taksi dari Bugis ke Orchard (habis S$15 include tip), terakhir pas pulang dari hotel ke bandara. Jujur aja selama di Singapur kita nggak pernah pakek fasilitas bis gratisnya karena.. (ini ceritanya berlanjut aja di bagian tersendiri karena nggak kebayang ini tulisan makin panjang aja ๐Ÿ˜† ). Setelah sampai hotel kita pun sholat dan langsung lanjut jalan lagi.

Oke, segitu dulu preview perjalanan saya dan Ayah Ibuk ke Singapur kemaren (sumpah preview aja panjang banget!). Mumpung saya masih inget dan bisa menuliskan. Kayaknya rada-rada sayang cerita jalan-jalan kemudian jadi memori yang terlupakan begitu saja. Semoga bermanfaat bagi yang akan atau sedang berhuru-hara di Singapur. Enjoy! ๐Ÿ˜‰

Iklan

10 responses to “[PREVIEW SUPER PANJANG] After 5 years..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s