Seorang Gadis dan Remah-remah Roti.

BREADPicture source: here.

Hati wanita serapuh tepung roti; dibawa terbang angin ketika tangan-tangan kuat membentuk segumpal kehidupan.
Bukan. Bukan wanita. Tapi aku. Hatiku serapuh itu. Bahkan lebih.
Ia memberi seseorang segalanya dengan secuil remah-remah kasih sayang.
_____
Hey, bangun kau. Dia datang. Di depan pintu, dengan senyuman. Membawa senampan roti. Bukan bunga. Kau suka itu kan?

Gadis kecil itu mengambil satu. Dan satu lagi. Tersenyum. Jatuh hati. Semudah duduk diam berdua dan menikmati aroma kopi di udara. Sekali lagi tercipta, satu kisah asmara. Gadis kecil dan pembuat roti. Bukan pangeran. Hanya pembuat roti yang tidak tampan.

‘Kebahagian itu kita buat, bukan didapat. Aku akan memberikanmu bahagia setiap hari; eh, tidak. Sepanjang waktu. Sepenuh hati, seperti aku membuat roti’, kata pria itu.

Sang gadis mengangguk. Bahagia. Mereka duduk berdua di ayunan yang terbuat dari selendang lusuh; ‘Aku bahagia, hanya dengan mengindera aroma roti yang menguar; dan punggungmu di sana. Aku bahagia. Cukup, aku tak butuh apa-apa’, malu-malu sang gadis berkata.

Berpelukan mereka; terbang ke langit.
_____
Saya lagi aneh. Ketika sedang bahagia, saya mengarang kata-kata sendiri; seakan itu yang dialami. Menyenangkan. Bermain dengan huruf itu menyenangkan. Iya, menyenangkan! Rasanya sederhana seperti duduk diam dan membaca; dengan bau kertas daur ulang menguar-nguar ke langit-langit kamar. Ah!

Iklan

10 responses to “Seorang Gadis dan Remah-remah Roti.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s