Wild.

Bismillahirrahmanirrahim.

Langit lelah; bumi menggerutu?
Tidak. Manusia kira begitu.
Suatu hari, aku samakan diri dengan semesta;
mereka lelah seiring masa,
aku letih menanti cinta.
Dan ternyata,
salah.

Langit setia turunkan hujan,
bumi tengadah,
menatap mesra.
Kau kira mereka lelah?
Tidak; kita terlalu banyak menduga.

Aku perlu belajar dari langit,
yang tidak bisa memeluk bumi;
tapi tangisnya sembuhkan sang kekasih.

Aku perlu belajar dari bumi,
rela tadahkan tangannya;
menghapus bulir-bulir sedih yang dicinta.

Dari mereka,
aku belajar arti cinta.
Cinta itu rela.
____

tumblr_m00wiwdK4y1qm58blo1_r1_500Minggu ini benar-benar banyak kabar yang datang terlalu tiba-tiba; saya tidak siap. Pertama soal kakak kelas yang tiba-tiba mengumumkan pada orang banyak bahwa dia sudah meminang salah satu adik kelas saya; dan kedua, kakak kelas saya yang 5 hari lagi akan menyandang status baru; istri. Untuk hal kedua saya tidak terlalu kaget, karena memang kakak kelas perempuan saya tersebut memang sudah sempat ‘bercerita’ secara tersirat sejak lama. Yang pertama? Saya sakit perut.

Entah kenapa akhir-akhir ini kampus fakultas saya sedang ‘bergejolak’. Topik mengenai pasangan hidup dan pernikahan menjadi bahan obrolan ‘segar’ yang kayaknya nggak pernah habis diomongin. Topik yang biasanya hanya ‘ramai’ di mushola-mushola kampus atau di antara anggota suatu komunitas Islam; di kampus saya sudah biasa menjadi bahan bicara sambil makan siang. Saya jadi semacam menduga-duga apa benar ada yang namanya ‘musim kawin’? :mrgreen: . Bukan apa-apa; karena kayaknya semua orang saat ini sedang galau perihal pasangan hidup di saat saya sudah mulai jengah dengan pembahasan seputar itu. Tapi kemudian saya terpengaruh lingkungan; saya jadi kebawa-bawa untuk kembali ‘memikirkan’ hal sejenis pernikahan ๐Ÿ™„ .

Dulu, ketika usia belasan dan berbicara soal pernikahan; orang-orang yang lebih tua akan ‘mencela’ saya dan menyuruh saya untuk fokus belajar saja. Saat ini usia saya 21 tahun; dan ketika saya mulai berani lagi untuk berbicara masalah pernikahan, orang-orang akan bilang kepada saya bahwa menikah itu bukan perlombaan, bahwa saya masih muda dan masih terlalu dini untuk mengkhawatirkan perihal jodoh. Saya percaya bahwa jodoh sudah diatur oleh Allah tanpa bisa dipercepat atau diperlambat sepersekian detik pun. Tapi begitu kah; bahwa saya kemudian hanya boleh diam dan menunggu? Seakan-akan saya akan muda selalu. Sesungguhnya tidak. Saya juga punya target dan alasan di balik kenapa saya harus menikah di usia yang relatif muda (walaupun bagi saya usia 21 atau 22 tidak muda-muda amat untuk menikah); bukan sekedar karena cinta atau ‘kebutuhan’ yang harus dipenuhi segera. Sungguh, tidak. Karena saya juga punya ‘peta hidup’ yang menagih tenggat waktu; misal usia sekian saya harus sudah ini, atau usia sekian saya harus sudah itu. Bukan karena perlombaan pun karena melihat orang di sekeliling saya sudah dipinang satu persatu. No.

Saya sudah menyerah perkara cinta sejak lama. Satu kali kejadian dan saya tidak dapat apa-apa kecuali kecewa. Tidak ada pernikahan, tidak ada restu orangtua. Bertahun-tahun saya menahan sayat-sayat hati yang makin lama makin menganga. Kadang, rasanya saya menjadi seseorang yang berbeda. Merutuk-rutuk dalam hati, berkata-kata seenaknya. Saya seperti tidak mengenal lagi diri saya sendiri. Bahkan saya berpikir tinggal menunggu waktu sampai saya benar-benar menjadi gila. Pikiran saya lelah; badan saya akhirnya ikut-ikutan tak berdaya. Saya sebut diri saya, liar. Ya, tiba-tiba pikiran dan badan saya menjadi liar. Berpikir seenaknya, berlaku sesukanya; menyalurkan rasa sakit dengan aniaya. Ada satu saat saya sampai tidak bisa menahan emosi lagi. Menangis; mengutuk-ngutuk semesta. Kenapa harus saya?

Kenapa harus saya?
Pertanyaan yang seharusnya tidak keluar dari bibir seseorang yang ‘dianggap’ cukup paham agama.

Teman seangkatan saya akhirnya ada yang menikah; di usia yang masih muda. Kakak kelas saya ada yang sudah menikah ketika seumuran saya dan saat ini tengah mengandung anak pertamanya. Kakak kelas saya yang lain ada yang akan menyusul kemudian. Lebih seru lagi; adik kelas saya dikhitbah.

Pernikahan memang bukan perlombaan; tapi kenapa kemudian saya menjadi galau? ๐Ÿ˜†

Selama 21 tahun hidup saya tidak pernah tahu rasanya ‘disukai’ seseorang. Maksud saya, seseorang menyukai saya begitu saja. Ya, begitu saja. Intinya selalu saya yang ‘tertarik’ duluan. Tapi tertarik itu bukan berarti saya serta merta bilang dan memulai hubungan yang entah arahnya kemana. Tidak. Diam saja, tanpa berpikiran untuk memiliki atau apa. Sekedar suka. Yaudah. Mungkin karena wajahnya yang tampan? Bisa jadi. Tapi tahu kan rasanya hanya suka? Bukan, bukan cinta. Ibarat makan es krim; saya suka rasa vanila, dimakan, terus udah gitu aja. Ya gitu intinya, saya jadi bingung sendiri ๐Ÿ˜†

Salah satu proses dalam kehidupan yang selalu menimbulkan tanya pada saya adalah, ‘bagaimana bisa dua orang kemudian bisa saling jatuh hati dan ingin bersama?’. Lucu. Saya tidak pernah tahu hal-hal semacam itu. Dan ketika kehidupan saya dihiasi oleh cerita si anu yang ditaksir si anu kemudian dilamar dan menikah; saya semakin penasaran, kok bisa? Kok… bisa? Kenapa… bisa? *speechless sendiri* ๐Ÿ˜€

Maksud saya; saya tidak pernah mengalami hal sespektakuler itu; ada seseorang yang ‘tertarik’ pada saya dan langsung meminta saya kepada ayah saya. Tapi, kenapa orang lain iya? Aneh ya pertanyaannya. Saya juga bingung gimana ngomongnya. Intinya, I am asking to myself; mirror mirror on the wall, apa yang salah dengan diri saya? Memang saya tidak cantik; tapi tidak lantas saya juga terlampau buruk. Perilaku saya? Oke, minus. Tapi saya bener-bener penasaran kenapa saya harus galau perihal pasangan hidup sementara di luar sana orang lain ‘ongkang-ongkang’ dan tiba-tiba saja seseorang datang memintanya?

Tapi memang ya, perkara seperti ini semakin dipikir semakin rumit. Otak saya aja daritadi udah jungkir balik ketika menuliskan ini. Mohon dimaklumi. Saya menulis karena saya tidak tahu pelarian apa lagi yang harus saya lakukan untuk ‘mengurangi’ kegundah-gulanaan saya. Yes, let’s call me wild. Pikiran saya sedang liar beberapa hari terakhir. Anggap saja saya sedang sensitif karena di sekitar saya sedang bertabur cerita bahagia. Bukan, bukan saya sedih. Saya ikut bahagia. Hanya saja saya berpikir, kapan giliran saya? Itu saja. Mungkin saya disuruh ‘menunggu’ lagi beberapa masa. Ya sudah.

Iklan

14 responses to “Wild.

  1. Assalamu’alaikum…
    Salam kenal,
    Nice post. Saya juga pernah menulis yang intinya mirip dengan tulisan ini di buku harian saya.
    Sebentar lagi saya juga 21 tahun.
    Saya sempat khawatir tentang masalah ini ketika saya harus menghadiri undangan walimahan adik tingkat.
    Tapi beberapa teman menasihati bahwa Allah selalu datang tepat waktu. Termasuk juga jodoh. Insyaallah jika kita telah siap, Allah akan pertemukan. Pada saat yang TEPAT.

  2. Saya jg pernah berpikir seperti itu, jd bukan cuma kamu kok Fath yg mengalami hal seperti itu..
    InsyaAllah ada rencana terbaik Allah untuk kita, jd kita pantaskan saja dlu diri kita untuk yg terbaik nanti dberikan Allah kpd kita .:)

  3. galau abieees ๐Ÿ˜€ .. tinggal masalah waktu fath. tunggu saja. Allah is the best planner. kamu akan merasakan semuanya. tunggu tunggu dan tunggu ๐Ÿ™‚ dan jangan lupa ditulis juga di blog ini kalo udah merasakan hal keren itu yang entah mungkin disebut CINTA dan bukan hanya sekedar suka .. hihi ..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s