Siapa suruh ke Jepang (Part 2)?

Bismillahirrahim..

Saya nggak bisa tidur. Insomnia? Bisa jadi. Yang pasti kebiasaan saya begadang beberapa bulan terakhir ini menciptakan siklus nokturnal yang tidak baik bagi tubuh saya. Sudah berusaha untuk terlelap dari jam setengah 10, tapi hasilnya saya malah ‘bertapa’ di depan laptop. Barusan, ada sms dari salah seorang teman saya yang bunyinya kurang lebih seperti ini;

Fathiaaa, udah liat pengumuman sayang? Gapapa ya Fath, belum di rejeki kita, hehe. Tetap semangat!

Salah satu hal yang tidak saya suka dalam hidup adalah kabar tiba-tiba yang datang ketika saya ‘tidak siap’. Dan saat membaca SMS tersebut saya sedang berbaring di kasur, bergelung di bawah selimut dan sudah lebih dari sejam ‘membujuk’ tubuh untuk tertidur. Dan rasanya saya makin tidak bisa tidur sekarang.
___
Jadi ceritanya, beberapa hari yang lalu saya ‘kebetulan’ menemukan link yang dishare oleh mas Ihsan di Facebook. Saya nggak begitu tahu mas Ihsan ini siapa :mrgreen: , tau-tau kita sudah menjadi kontak dan pada akhirnya bertegur sapa karena kartupos. Inti ceritanya bukan itu.

Nah, mas Ihsan ini ngeshare link tentang student exchange ke Jepang selama seminggu. Tentu aja saya langsung mata belo dong liat woro-woro kayak gitu. Setelah baca panduan dan liat formnya, syarat-syaratnya cukup gampang dan nggak ribet; didukung saya kebetulan kuliah di Perguruan Tinggi Agama Islam/PTAI yang secara istimewa cukup menyertakan bukti fotokopi KTP dan nggak perlu ribet-ribet ngurus surat keterangan ini itu. Waktu saya baca linkย itu, kurang sekitar 3 harian sebelum deadline. Saya, yang kebetulan juga sedang menghadapi saat-saat menjelang ujian, langsung berkobar semangat entah gimana. Saya langsung ngeprint formnya dan dengan hati-hati mengisi semua data. Saya juga langsung bikin pas foto, kebetulan juga pas foto saya udah lama nggak diperbaharui. Satu kendala yang saya hadapi, pasport saya ketelingsut. Padahal ada salah satu isian yang menanyakan soal pasport. Tapi pada akhirnya ketemu juga dan saya mengirimkan persyaratan yang diperlukan dengan ekspektasi tinggi.

Untitled

Jadi itu apa sih? Sebut aja itu program student exchange JENESYS 2.0. Saya nggak paham makna 2.0-nya itu, tapi saking berharapnya saya, saya ampek hapal singkatan JENESYS-nya, yaitu Japan-East Asia Networks of Exchange for Students and Youthsย (percayalah bahwa saya nulis kepanjangan ini tanpa nyontek ๐Ÿ˜† ). Intinya ini program yang diadain ama pemerintahan Jepang untuk meningkatkan kunjungan ke Jepang dan mengenalkan nilai-nilai kehidupan serta budaya + teknologi dari sonoh. Untuk pelajar tentu saja; yang saya ikuti ini sebut saja untuk mahasiswa strata 1. Kebetulan yang ngampu program JENESYS kali ini tuh UIN Jakarta, mangkanya kenapa PTAI ‘diistimewakan’ dalam hal persyaratan. Gimana saya nggak tergiur buat ikutan; selain karena persyaratannya nggak ribet dan cukup dikirim via email pas tahap pertama, semua biaya transportasi dan akomodasi ditanggung ama pihak Jepang. Intinya kita cukup ‘bawa badan’ buat pergi ke sana. Di sana kita bakal diajak ke beberapa perusahaan di Jepang untuk melihat teknologi mereka, diajak mengenal budaya-budaya dan nilai-nilai kehidupan orang Jepang dan favorit saya adalah.. pergi ke tempat-tempat wisata, dalam hal ini adalah world heritage yang ada di Jepang. Akkk! Kewajiban kita nggak susah; intinya menaati peraturan dan pas balik dari sana wajib untuk membagi pengalaman pada orang-orang yang saya kenal. Saya benar-benar berekspektasi sangat amat tinggi untuk lolos seleksi.

Singkat cerita, saya kirimlah tuh persyaratan semua via email. Walaupun ada beberapa bagian yang bikin saya ragu bakal keterima seperti kemampuan bahasa Jepang saya yang ‘poor’ in all aspects, nggak punya sertifikat TOEFL walaupun kemampuan bahasa Inggris saya nggak jelek-jelek amat dan academic rewards yang ‘nyaris’ nggak ada, tapi secara umum saya cukup percaya diri dan feeling saya cukup kuat. Saya minta do’a restu juga ama Ayah Ibu walaupun ya tanggapan mereka nggak bisa dibilang ‘hore-hore’ banget, khas orangtua lah, hanya berharap saya keterima dan bangga ‘setidaknya’ saya sudah mencoba. Mereka pesimis juga secara nggak langsung, tapi nggak mau ngelukain perasaan anaknya :mrgreen: . Tapi saya berpikir bahwa Ayah Ibu saya nggak bisa mengirim saya ke luar negeri dengan mudah. Saya bukan anak orang super kaya yang bisa ngirim anak-anaknya jalan-jalan ke luar negeri tiap liburan. No. Jadi saya benar-benar harus pergi ke luar negeri, mewujudkan mimpi saya untuk melihat salju dan musim gugur di negeri orang dengan usaha sendiri.

Saya pun ngeshare link tentang student exchange itu di Facebook. Di hari terakhir deadline banyak teman saya yang akhirnya ikut mendaftarkan diri, saya pun kebanjiran pertanyaan darimana-mana dan saya berusaha membantu sebisa mungkin.

Tanggal 30 Januari datang. Rencananya hari ini adalah hari di mana pengumuman 150 orang yang lolos seleksi tahap pertama dipajang di web PPIM. Udah dari tepat tengah malam saya mantengin webnya dan bolak-balik buka email dan mensetting HP saya tidak lagi dengan mode silent tapi dengan nada panggilan masuk. Bener-bener konyol dan bener-bener menunjukkan bahwa saya cukup pede untuk lolos seleksi *ketawa aja ๐Ÿ˜† . Kenapa saya melakukan dua hal tersebut karena KATANYA anak-anak yang lolos seleksi itu bakal dihubungi via email dan telepon. Saya benar-benar berharap nama saya ada di sana. Saya nggak terlalu fokus lagi untuk menghadapi ujian blok yang bertepatan juga di hari ini; selain karena alasan saya sudah terlalu lelah dengan rutinitas dan waktu istirahat yang tidak cukup. Nggak usah ditanya deh berapa kali saya bolak-balik ngecek web PPIM dan email serta HP saya. Nggak usah ditanya berapa kali saya memohon dalam do’a agar lolos. Saya benar-benar ingin ke luar negeri. Saya benar-benar ingin ke Jepang dengan usaha sendiri.

… bahkan sampai ujian kelar sore tadi pun belum ada tanda-tanda bahwa pengumuman akan segera dipampang. Saya mengistirahatkan badan saya yang bener-bener sudah ngedrop dan tidak lagi sesemangat kemarin, walaupun nggak bisa bohong bahwa saya masih sangat berharap.

Pukul setengah 6 sore HP saya berbunyi. Panggilan masuk. Saya yang sedang terlelap langsung terjaga dan berharap dengan sangat. Karena panggilan masuk berasal dari HP saya yang nomornya tidak banyak diketahui orang, saya benar-benar langsung sumringah. Tau kan gimana ekspresi orang yang lagi berharap kekasihnya menelepon? *kalau nggak tau yaudah :mrgreen: . Pas saya liat nomornya; tidak ada dalam kontak saya, bukan nomor HP alias nomor rumah atau nomor kantor atau entahlah. Saya bener-bener bahagia dan langsung melek seketika.

‘Halo!’, sahut saya menjawab telepon dengan semangat.
‘Ya halo, dengan mbak Fathia?’, jujur aja saya langsung pede abis berpikir, ini dia! Ini dia! Apa ini tanda saya lolos seleksi? Ya Allah!
‘Iya, bener..’, sumpah jantung saya dag-dig-dug belalang kuncup.
‘Iya mbak, ini kami dari…………………..’, sampai di kalimat ini benar-benar sumringah bahagia tralalala.
‘….. O Smile. Mau menanyakan apakah jadwal kontrol besok….’, kalimat selanjutnya cukup membuat saya yang sudah di puncak bahagia rasanya kayak dihempas keras-keras ke tanah. Rasanya kayak lagi mimpi indah banget terus kebangun. Ya kurang lebih kayak gitu, deh.

Ternyata itu telepon dari tempat saya biasa kontrol gigi. Kebetulan saya udah pesan jadwal kontrol jam 4 sore dan pihak sananya nelepon buat ngubah jadwal karena dokternya mau ke luar kota.

Sakit banget.

Yaudah. Terus barusan tiba-tiba saya diSMS temen saya yang juga ikutan daftar JENESYS pas saya lagi nggak berharap melihat hasil seleksi. Negatif. Saya gagal. Nggak lolos. Dan kata-kata penolakan lainnya. Saya langsung bangun, nyalain laptop, buka web PPIM dan menelaah nama-nama peserta yang lolos. Sampai di baris nama yang berawal huruf ‘F’; tentu saja tidak ada nama saya di sana. Nggak ada juga nama-nama orang yang saya kenal. Saya melihat nama-nama yang tertera di sana; alangkah bahagianya. Ada 2 orang yang berasal dari kampus yang sama dengan saya, tapi saya tidak kenal sama sekali. Sepertinya dari Fakultas Ekonomi.

Sumpah saya asli sedih banget. Bahkan saya tadi sempat menitikkan airmata sedikit :mrgreen: . Bukan, bukan karena saya tidak diterima. Tapi saya menangisi diri saya sendiri yang dengan dodolnya berharap jadi emas di tumpukan permata; which means YA AMPUN SUMPAH FATH SITU NGGAK TAU DIRI AMAT SIH! Walaupun saya tahu mesti bakal nggak lolos dengan kualitas yang jauh dari keceh, kenapa saya masih juga berharap dan melakukan usaha-usaha yang berlebihan banget. Nih ya saya bongkar aib :mrgreen: , saya ampek nyari tau sebenernya Jepang tuh kayak apa, dibagi jadi apa aja, perdana menteri dan kaisarnya sekarang siapa, simbolnya apa, dan lain-lain. Saya ampek tahu pengetahuan-pengetahuan yang luar biasa; simbol Jepang itu ada 3, gunung Fuji, Sakura dan Shinkansen. Orang Jepang sendiri biasa menyebut negaranya dengan Nippon. Dan lain-lain. Saya juga udah kayak orang Skizofren yang ngomong sendiri, latihan bagaimana harus menjawab kalau saya diinterview via telepon dengan pertanyaan-pertanyaan yang saya perkirakan sendiri. Hahaha. Kalau inget lagi memalukan banget deh pokoknya ๐Ÿ˜† .

cherry-blossoms-japan-spring-album-hd-wallpaper-14469Photo taken from here.
Photo taken fromย here.
20120511 092-thumb-600x450-1045

Tapi semua sudah berakhir. Pupus sudah harapan saya untuk jalan-jalan ke Jepangย gretong. Saya ngarep banget tuh bisa menikmati suasana Jepang di akhir musim dingin dan awal musim seminya.ย Hanami; akkk, pingin banget bisa melihat dengan mata sendiri ๐Ÿ˜€ . Tapi ya sudah lah ya, namanya juga belum rejeki. Rejeki saya bukan di sini. Semoga dengan tertutupnya satu pintu, Allah buka pintu lain yang jauh lebih banyak dan lebih baik untuk saya.ย Aamiin.

Kita meminta satu, padahal Allah dapat memberi kita seribu. Ekspektasi kita itu cuma secuil dibanding rencana Allah yang pasti jauh lebih indah. Belajar bersyukur senantiasa. Kata ‘tidak’ itu belum tentu buruk; justru ada skenario indah yang menanti di baliknya.

โ€œDan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.โ€

… bersyukur, nikmat ditambah. Tidak bersyukur? Kalian sudah tahu jawabannya.

Alhamdulillahiladzhi bini’matihi tatimussholihaat ๐Ÿ™‚
Setidaknya sekarang saya sudah bisa tenang dan gak mikir-mikir lagi soal ‘lolos gak yaaaa..’ ๐Ÿ˜†
Sebentar lagi liburan, hohorey!

Yogyakarta, 31 Januari 2014 at 00.00

Iklan

41 responses to “Siapa suruh ke Jepang (Part 2)?

  1. haha, mas ihsan ๐Ÿ˜† Beliau sukanya dipanggil “pak” atau “om”, fath.
    Anyway, aku juga ikutan. Tapi signature-nya salah. Malah aku tulis namaku (huruf). Terus, pas dikirim lewat email, 2 hari kemudian ada email masuk yang isinya “pesan gagal dikirim” ๐Ÿ˜†

  2. salam kenal mba fath. ayooo mba, msh ada ksempatan yg lebih baik lagi di depan, insya Allah. program going abroad itu dr taun2 ini sudah mulai marak spertinya, jd coba lagi ajah mbaa ๐Ÿ˜€

  3. entah rasanya pengin ketawa juga sih kalo baca postingan ini, pasalnya aku juga udah pede banget bakal ketrima tapi nihil, konyol emang hahaha
    dan anehnya sering banget merasakan hal seperti itu padahal sudah berkali2 gagal hahaha

    *maaf salam kenal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s