27 November 2013; Hari (Tanpa) Mogok Praktek.

Bismillahirrahmanirrahim..

Pasti udah pada tau dong berita yang lagi ‘hot-hotnya’ di Indonesia, bahkan tiap saya kuliah meski cuma secuil, dosen yang ngajar mesti mengutarakan komentarnya; yoi, kasus yang menimpa dr. Ayu, dr. Hendry, dan dr. Hendy dan mereka semua adalah obgsyn.

Bagi yang membaca tulisan ini saya hanya memohon dengan sangat untuk berpikiran terbuka. Jangan jadikan ‘pengalaman’ dan ‘katanya’ menjadi andalan untuk berkomentar yang kurang tepat. Dan lebih baik, jika hanya ingin menjelek-jelekkan dokter, tidak usah berkomentar. Bukan saya anti dikritik, tapi kritik yang tidak pada tempatnya hanya akan membuat keributan. Lagian saya juga udah paham apa yang mau dikomentarin bila itu hal negatif; lagi-lagi mesti soal bagaimana tidak becusnya dokter di Indonesia, kan? ๐Ÿ™‚

Menurut kalian dokter itu apa? Orang yang pintar kah? Kaya kah? Atau apa? Banyak ‘penilaian’ masyarakat yang jauh dari kebenaran; yang kuliah di jurusan kedokteran mesti pintar, mesti kaya, mesti tahu segala? Salah besar. Saya malah sering ‘takut’ kalau ditanya soal dunia perkuliahan. Apa bedanya saya dengan jurusan lain? Sama saja. Akan tetapi, perjuangan saya sudah dimulai sejak kuliah karena apa yang saya lakukan di masa depan tidak lepas dari proses yang saya jalani hari ini. Dan itu bukan hanya mengenai diri saya sendiri tapi menyangkut orang banyak, tolong dicatat. Oke lah, saya di sini sekarang bukan ngomongin kasus yang lagi hangat di mana-mana. Saya cuma mau menulis sedikit karena itu kewajiban saya sebagai mahasiswa yang kebetulan berkecimpung di sana. Media di sana sini menghujat dokter, menyampaikan berita yang masih diragukan kebenarannya, memprovokasi masyarakat, gejolak di mana-mana.

Satu pertanyaan saya; apa sebenarnya yang dicari? ETIKA. Yes; most people will answer that word. Pengalaman diri seseorang, keluarganya, kerabatnya atau hanya sekedar katanya membuat masyarakat Indonesia tidak lagi percaya pada dokter. Alah, dokter Indonesia memang nggak becus! Nggak sedikit saya mendengar komentar demikian. Dokter dibilang salah ini, salah itu, tidak memperhatikan pasien dan lain sebagainya. Sekarang saya tanya; bagaimana bisa seorang pasien menentukan apakah yang dilakukan dokter itu benar atau salah? Memang mereka (pasien/keluarganya) tahu bagaimana prosedur yang seharusnya? Kalau mereka tahu prosedur yang sebenarnya seharusnya bisa menangani masalah sendiri tanpa bantuan dokter, begitu kan? Lalu, dokter dihujat ‘cuek’ terhadap pasien, lalai, tidak sigap bertindak dan lain sebagainya. Saya di sini bukan membela pihak tertentu, tidak. Jujur, saya juga sangat tahu dan tidak menutup mata bahwa bidang kesehatan di Indonesia masih jauh dari baik. TETAPI, yang perlu ditekankan di sini adalah bukan DOKTER yang buruk akan tetapi tiap individu yang ‘menyandang’ gelar tersebut. Jadi tidak bisa dipukul rata bahwa semua dokter Indonesia itu bodoh, nggak becus dan lain sebagainya.ย Got it?

Banyak lah saya dapet dari internet link-link yang isiannya masyaAllaah; sungguh sangat tidak sopan, kasar, jauh dari kebaikan. Boro-boro ngehargain, dokter dihujat seperti tidak pernah benar, dibinatang-binatangkan dan lain sebagainya. Semua yang menurut mereka adalah kesalahan-kesalahan yang dilakukan lantas dibeberkan tanpa benar-benar memandang itu benar atau tidak. Darimana mereka semua dapat informasi itu? Lagi-lagi ‘katanya’. Kalaupun tidak ‘katanya’ ya googling. Tidak pernah sekalipun dosen saya di kampus mengizinkan kami mengambil referensi bacaan dari internet (kecuali memang jurnal dari web kedokteran yang memang sudah terpercaya), apalagi blog-blog gak jelas yang masih dipertanyakan keilmiahannya. Emangnya beda? Ya beda banget lah. Yang namanya dunia kedokteran itu bukan matematika atau fisika yang rumus dan penjabarannya itu-itu aja, kalaupun berubah ya nggak akan jauh-jauh dari asalnya. Dunia kedokteran itu menuntut seseorang yang bukan hanya harus siap fisik dan mentalnya tapi juga harus siap belajar sepanjang hayat. Yes! Seumur hidup. Nggak ada cerita ketika seorang mahasiswa kedokteran lulus terus disumpah jadi dokter dia nggak akan belajar-belajar lagi kecuali ambil S2 atau spesialis. Seorang dokter umum sekalipun dituntut untuk terus mengapgret ilmu yang sudah dia punya dengan ilmu dari temuan baru, karena kedokteran adalah ilmu yang akan terus berkembang sampai akhir zaman. Sesuatu yang apdet sekarang bisa jadi beberapa tahun mendatang udah nggak oke lagi buat jadi patokan; itu kenapa seorang dokter wajib ikut seminar-seminar ilmiah dan lain sebagainya. Ya itu tadi; we are long life learner.

Dan itu semua dilakukan untuk siapa? Ya untuk pasien. Yakin nggak ada dokter yang SENGAJA mau nyelakain pasiennya. BIG NO! Cuma ya itu, kebaikan yang sudah dilakukan oleh seorang dokter malah dijadikan ‘tameng’ untuk melemparkan semua kesalahan. Apapun yang terjadi yang salah dokter. Kalau ada apa-apa ama pasien yang salah dokter. Kalau ini kalau itu yang salah dokter. Pokoknya kalau ada kejadian buruk yang salah adalah dokter. MasyaAllaah. Dokter bukan Tuhan yang lepas dari takdirNya. Saya setuju dengan pendapat yang bilang bahwa, ‘Ya dokter harusnya berusaha semaksimal mungkin dulu baru deh boleh bilang takdir’. Sekarang pertanyaannya diganti, ‘Batasan maksimal itu segimana?’. Mesti maunya pasien selamat baru deh bilang dokternya ‘maksimal’. Bukan begitu. Dokter lebih paham apa yang harus ia lakukan untuk menyelamatkan pasien, masalah hasil akhir; no doubt, GOD. Ya, Allah yang memegang semua takdir manusia. Kalau misal mikir dokter Indonesia buruk semua dan bikin banyak orang mati, terus harus gimana? Berarti kalau sakit jangan ke dokter daripada entar mati :). Padahal jelas, mati atau tidak Allah yang tentukan. Terserah yang masih mau ngeyel atau gimana.

Masih banyak lah pokoknya yang mau dijabarin, kalau ditulis semua tumpeh-tumpeh dah, jadi kayak curcol :mrgreen:. Inti dari tulisan ini bukan berarti saya bilang bahwa dokter selalu benar. Tidak. Dokter juga pasti ada salah. Dan berhubung saya juga belum jadi dokter di sini saya cuma mau mengungkapkan keprihatinan saya terhadap persepsi masyarakat atas dokter. InsyaAllah saya juga akan menjadi bagian dari para dokter; saya hanya ingin masyarakat tahu dan menghargai mereka. Toh, mau segimanapun negatifnya penilaian seseorang terhadap dokter, dia akan pergi ke dokter juga jika sakit. Jangan jadikan ‘pengalaman’ dengan dokter-dokter yang kurang baik menjadikan kita antipati dengan dokter. Banyak banget dokter Indonesia yang jauh lebih baik. Jujur aja, saya ngerasain banget bahwa Indonesia juga punya banyak dokter oke; beberapa di antaranya adalah dosen yang mengajar di kampus.

Contohnya hari ini.ย Hari ini bener-bener luar biasa. Ngikutin diskusi panel yang asiknya nggak ketulungan; saya jadi ‘ngefans’ ama salah satu dokter yang kece maksimal. Iya, ngefans. Dokter paket komplit all in one; cerdas luar biasa, nyampein materinya asik banget, pengalamannya nggak usah ditanya dah, udah kemana-mana, bisa banyak bahasa entah itu dari bahasa lokal alias Jawa, Inggris, Arab ampek Jerman daaan yang paling penting he won’t ever nyampein suatu materi kuliah tanpa menukil ayat-ayat Al-Qur’an without open the Al-Qur’an itself alias apal luar kepala ama arti-artinya men! MasyaAllaahย . Ternyata doi emang beneran hapal Al-Qur’an. Tawadhunya luar biasa; sudahlah, no doubt, there is no words to describe my impression for him.ย Namanya dr. Zaenal Muttaqien Sofro blablabla *gelarnya panjang banget :mrgreen:. Beliau dokter dari UGM yang kebetulan ngajar di UII juga. Menurut info yang saya dapat dari kakak kelas saya, beliau keluarganya tuh emang para penghapal Al-Qur’an. MasyaAllaah. Itu cuma satu contoh dari masih banyaaaak lagi dokter keceh di Indonesia. Mungkin yang masih antipati ama dokter belum nemu aja yang ‘sesuai’ dengan maunya :).

Minta saya; tolong hargai dokter. Mereka bukan ingin disanjung-sanjung atau apa. Mereka juga manusia yang tidak hanya tinggal diam dirinya dihujat tanpa alasan yang benar-benar jelas. Dan satu lagi; dokter bukan Tuhan yang bisa menentukan mati hidup seseorang. Jangan anggap bahwa dokter harus sempurna. Kalian yang menghujat tidak tahu kan kalau misal ternyata dokter-dokter itu ketika praktek sebenarnya pikirannya juga ada di rumah karena keluarganya sedang sakit. Kalian tidak tahu kan rasanya bagaiman harus tetap bersikap baik terhadap pasien padahal salah satu anggota keluarga baru saja meninggal. Kalian tidak tahu kan rasanya rela digedor-gedor tengah malam untuk membantu seseorang untuk tetap hidup. Karena kalian tidak tahu, tolong hargai mereka. Banyak hal yang tidak kita rasakan; tapi nyata mereka alami. Sekalinya dokter ‘protes’ lantas dicela sana-sini, dibilang fanatisme profesi. Nggak pernah ada yang bener kan yang dilakukan dokter di mata orang-orang tertentu kalau sudah begitu? ๐Ÿ™‚

Dan hari ini, sebagai wujud solidaritas terhadap sejawat, di Indonesia serentak diadakan mogokย kurangi praktek bersama. Toh walaupun sudah disepakati bahwa hari ini para dokter tidak akan praktek kecuali IGD dan keadaan emergency, tetep aja para dokter itu pada akhirnya tetap melayani pasien-pasiennya. Wujud bukti bahwa sejahat-jahatnya pasien ama dokter (walaupun tidak semua ya memang), tapi dokter nggak akan pernah tega buat meninggalkan mereka. Karena dokter itu bukan sekedar pekerjaan tapi ‘panggilan’. Mungkin masyarakat juga belum tahu, bahwa ikatan sesama dokter itu erat banget. Makanya reaksinya sampai demikian, tentunya tidak bisa hanya tinggal diam ‘pasrah’ bila salah satu sejawat ‘disemena-menakan’ oleh hukum.

Hikmahnya dengan kejadian ini; semoga kita, para dokter dan calon dokter senantiasa berhati-hati dan semakin mengapgret diri. Dan yang paling penting adalah berdo’a. Tidak ada yang bisa menghindarkan kita dari bahaya dan keburukan kecuali pertolongan Allah. Maka, berdo’alah :).

Semoga Allah berikan pahala yang berlipat ganda untuk semua dokter yang telah berusaha membantu seseorang memperjuangkan barang sedetik kehidupannya. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Allahumma aamiin.

Yogyakarta, 27 November 2013.

UII
us1
us2

Iklan

40 responses to “27 November 2013; Hari (Tanpa) Mogok Praktek.

  1. Rasa marah..kecewa..sedih..seringkali menjadikan orang lupa dan tidak bisa berfikir jernih dan bicara yg baik. Semoga menjadi pelajaran yg berharga untuk semua pihak.

  2. Mau menjelaskan sedikit mengenai ‘dokter Indonesia banyak yang salah diagnosa’ yang sering digembar-gemborkan masyarakat. Tahu darimana sih kita bahwa dokter salah diagnosa? Apakah kita, as patient, lebih paham mengenai gejala klinis yang dialami dengan dugaan mengarah ke penyakit tertentu?

    Mungkin memang ada yang ‘katanya’ salah diagnosis; tapi, yang namanya manifestasi klinis alias tanda dan gejala yang dialami seseorang itu bakal banyak kemungkinannya. Namanya diagnosis banding atau differential diagnosis. Maksudnya apa? Jadi intinya, dengan suatu keluhan utama dan beberapa yang menyertai, nggak ada penyakit yang bisa dengan spesifik cirinya bikin seorang dokter itu tahu pernyakitnya apa (kecuali yang memang sudah diketahui patognomonik alias spesifik untuk suatu penyakit tertentu), tapi mesti ada daftar kemungkinan penyakit lain yang gejalanya ‘mirip’ atau bahkan mungkin sama dengan suatu penyakit tertentu. Masih belum paham?

    Misal, pasien ngeluh pusing. Apakah bisa spesifik seorang dokter itu menentukan penyakitnya apa? Tidak. Penyakit yang manifestnya pusing itu banyak banget. Maka dari itu pemeriksaan fisik dan penunjang diperlukan untuk menegakkan diagnosis lebih lanjut. Apalagi kanker misal, khususnya yang sudah parah. Kalau sudah metastasis alias menyebar ke organ-organ lain kan ‘gambarannya’ bisa lebih ‘abstrak’, jelas pemeriksaannya harus lebih hati-hati. Tapi yang ada apa; dokter merujuk untuk dilakukan pemeriksaan penunjang tapi malah dikira ‘nguras’ pasien, dituding melakukan pemeriksaan yang tidak diperlukan.

    Kalau udah gitu, harus gimana coba?

    • saya kesasar ke blog ini, mungkin itu ya salah satu yang jadi ketidakpercayaan sebagian orang ke dokter, dikira menguras uang supaya bulak balik ke dokter itu. Bapa saya udah beberapa kali periksa pada dokter yang sama, diduga terkena penyakit A. Karena bosen maka bapak saya pindah dokter ternyata dari satu kali pemeriksaan penyakitnya B, langsung diberi obat tersebut dan Alhmamdulillah berangsur membaik. Temen saya, disuruh periksa lab, hasilnya dikasih ke dokter itu dan bilang gejala C dan harus dirawat tapi di rumah sakit itu kamar penuh jadi ga dirawat. Lalu temen saya pindah rumah sakit, dari hasil lab itu ternyata dia terkena gejala penyakit D, tidak perlu dirawat dan Alhamdulillah sembuh. Saya beberapa kali mendengar kisah serupa, yang mungkin menjadi bahan orang2 merasa dokter mempermainkan gitu. Maaf ya ini berdasarkan pengalaman, toh buktinya yang memberitahukan penyakit yang bener yang diderita itu dokter2 juga kan.

  3. ada satu yang bikin patah hati dengan dokter eh ada dua deng. kalo mahal mah tidak usah disebut ๐Ÿ˜€
    1. Dateng ke rs telat dari jadwal ๐Ÿ˜ฆ
    2. Bilang diabetes tidak bisa disembuhkan. Padahal semua penyakit itu ada obatnya, kecuali penyakit tua dan maut.

    • Mau menanggapi boleh mungkin ya Pak ๐Ÿ™‚
      1. Kecuali sudah diketahui alasannya dengan pasti bahwa dokternya ‘sengaja’ ngaret mungkin ada baiknya kita senantiasa berprasangka baik. Siapa tahu dokternya masih ada pasien gawat sebelum datang ke RS selanjutnya karena ada dokter yang praktek tidak hanya di-1 tempat, hendaknya dimaklumi.
      2. Kalau ini saya juga kurang sepakat ya; tugas dokter harusnya selain menjadi ‘obat’ dalam tindakan medis dia juga harus menjadi ‘obat’ psikologis pasiennya. Mohon dimaafkan, Pak.

      Semoga bapak bisa mendapat dokter yang lebih baik ke depan, aamiin..

  4. mengenai salah diagnosa, istri saya pernah mengalami.
    istri saya sakit gigi, 2 kali berobat dengan dokter yang sama. kalo gak salah sih drg senior, dibilang gigi ini yang masalah dsb. setelah berobat masih saja sakit, sehingga saya harus cuti dan menjadi bapak rumah tangga.

    tapi pas ganti dokter, di rumah sakit yang sama juga, analisanya lain bukan gigi yang ditunjuk oleh dokter yang pertama. dan sekali berobat langsung bener.

    • Kalau masalah pergigian saya nggak paham, Pak. Tapi tetep aja ya menyangkut dokter. Seharusnya kalau sudah begitu ada pemeriksaan penunjang, biar suspect atau dugaan gangguan yang dialami pasien bisa benar-benar ditegakkan sebagai diagnosis ๐Ÿ™‚

  5. Semangat bu Dokter
    Kali ini profesi dokter-di-Indonesia yang lagi kena sorotan
    Kayaknya apa-apa asli Indonesia memang suka dipandang miring sama masyarakat. Setelah sebelumnya PNS, polisi, politisi, anggota DPR, buruh, sekarang dokter. Lihat aja pembahasan mengenai mereka ini di media tanggapannya pasti negatif, kecuali memang yang berkecimpung di dalamnya dan bener2 tau kondisi sebenarnya ๐Ÿ˜€

    Aku sih percayanya, seorang dokter akan melakukan yang terbaik untuk pasiennya, thats it. Semoga putusan akhir nanti benar-benar membawa keadilan ya ๐Ÿ™‚

    • InsyaAllah. Terima kasih Kak Andiah. Saling mendo’akan saja. Yang pada komentar negatif gitu ada kalanya ‘bidangnya’ dicecar juga musti balik ambil sikap defensive. Hehehe.

      Semoga banyak masyarakat yang bisa lebih terbuka pikirannya dan tidak melihat segala sesuatu hanya dari satu sudut pandang. Aamiin ^_^

  6. senada dengan pak tiar rahman, ada satu hal yg bikin saya agak ilfill dg dokter, khususnya yg PNS, setiap kali saya ke puskesmas bawa anak berobat atau posyandu, selalu telat, bahkan bisa nyampe 2 jam lebih dari jam 8 pagi. kata perawat dsitu, dokternya masih di RS swasta. jadi kita nunggu 2 kali, nunggu dokter ama nunggu antrian diperiksa. serba salah, datang cepet dokter ga ada, datang lambat antrian numpuk.
    ahirnya saya kapok ke puskesmas, kalo sakit mending langsung ke praktek swasta, atau sengaja ngincer UGD (di luar jam puskesmas).

    oia mbak, emangnya ga ada cara protes yg lain ya? saya liat berita di tipi td malem banyak pasien terlantar.. kasian aja sih..

    • Sekali lagi saya bilang, walaupun di RS swasta toh dokternya kan juga nolong orang tujuannya. Mungkin kita perlu berlatih husnudzhon aja lah ya, jangan mikir dokternya lama gara-gara mentingin di RS swasta karena bayarannya lebih gede. Toh kita nggak tahu pasti, kan. Kasian loh dokter-dokter itu, bayangin aja, harus praktek dari satu tempat ke tempat lain tanpa jeda. Bukan dia mau untuk telat, tapi andai dia bisa bagi badannya jadi dua ๐Ÿ™‚ mungkin bisa untuk direnungkan kembali.

      Oiya, lagi-lagi TV, ya. Emang media bisa bikin masyarakat salah persepsi. Setahu saya mau di manapun semua tetap ada dokter yang jaga; walaupun hanya di bagian emergency dan IGD. Awal niatnya hanya di IGD dan keadaan emergency saja, tapi pada akhirnya dokter nggak tega dan pasien yang sakit dilayani juga. Sudah dibaca sampai kelar belum ya tulisan saya, kayaknya saya udah nulis di atas :). Jangan secara ‘mentah’ menerima apa yang diberitakan media, mereka banyak memberitakan sesuatu secara parsial; itu saja :).

      • kalo sekali dua kali mungkin saya bisa huznudzon, tapi ini setiap kali (total 5 kali, 4 posyandu, sekali berobat). Dan yg terahir (yg berobat) yg paling ngeselin. Udah dtg pagi2 buat daftar, anak sakit panas tinggi, rewel, minta gendong terus, dokternya belum datang (mudah2an kelak mbak fathia ga ngalamin kaya saya). Mungkin ini kasuistis/kebetulan, tapi tetep aja saya dongkol. Makanya kapok lah ksitu lagi, meski mungkin sekarang dokternya udah ganti. Trauma, lelah jiwa menunggu.
        Kejadian ini sedikit-banyak mempengaruhi pola pikir saya, meski saya Cuma ga respek sama dokter puskesmas itu saja, tapi terkadang rasa dongkol itu muncul mana kala saya bertemu dokter seperti itu. Mungkin akan beda jika saya ga mengalaminya sendiri.
        Kalo dokter minta di mengerti dan di hargai, saya rasa pasien pun demikian. Mereka juga manusia, sama kaya dokter yang mungkin punya masalah sendiri. Mungkin ada yang datang jauh-jauh spt pasien rujukan, atau keluarga pengantar yang panik melihat pasien menahan rasa sakit yang diderita, atau lagi ada masalah juga dikeluarganya, atau tingkat pendidikan yang minim sehingga atitude dan pemahamannya kurang baik dan (mungkin) udah bayar mahal. Ketika orang2 ini ketemu dokter yang tidak sesuai harapan mereka yg sifatnya subjektif (ga ramah, judes atau galak dll), atau abu-abu spt kasus saya, apalagi yang berhubungan dg nyawa, ya dimaklumi saja kalo mereka bicara ini-itu. Anggaplah mereka ini cuma oknum, sama seperti kalo ada dokter yang salah. Jadi mohon juga para dokter lebih arif juga melihat hal ini.
        Mudah-mudahan ini jadi pelajaran berharga bagi semua pihak, paling tidak postingan ini bisa membuat saya berpikir lebih bijak. Terima kasih mbak fathia.

    • Ya mbak, Emang sih kadang media itu lebayatun, apalagi narasinya, tapi menurut saya, ga otomatis berita itu sepenuhnya tidak benar juga kan? Soalnya di berita yang saya liat itu si pasien diwawancara. Dia disuruh pulang oleh RS, padahal dia mo berobat atau periksa apa gitu.
      Sekali lagi, kenapa harus demo? karena sedikit-banyak pasti berpengaruh pada pelayanan. Emang menurut berita di bbrp tempat pelayanan berjalan normal, tapi ada juga di tempat lain ga begitu. Mungkin ada option lain yang lebih tepat selain demo. Kalo boleh usul, lain kali kalo emang harus demo, mahasiswa kedokteran aja yang disuruh demo, kan mahasiswa biasa demo ๏Š dan mungkin bisa didampingi perwakilan dari organisasi kedokteran. jadi pelayanan kesehatan tetap bejalan normal.
      Ahirnya saya mohon maaf kalo ada komentar saya yg kurang berkenan, saya doakan mbak fathia cepat lulus dan jadi dokter yang baik dan istiqomah menolong sesama. Amin.

      • Allahumma aamiin.
        Entah ya pak, itu inisiatif ‘tafakur’ bersama dari pihak dokternya soale; bukan mahasiswa. Walaupun saya, sebagai mahasiswa sedikit banyak juga miris dengan keadaan yang ada. Tadinya mau bahas panjang lebar, tapi yasudahlah. Yang pasti saya beritahu di sini adalah dokter sama sekali TIDAK SUKA dengan apa yang mereka lakukan kemarin. Itu pertama kalinya sepanjang sejarah dan semoga tidak akan pernah terulang. Paham maksud saya? Dokter sudah mengupayakan banyak hal agar ‘masalah’ bisa diselesaikan secara ‘cerdas’, tapi ternyata mereka malah dianggap angin lalu; lantas dihujat dimana-mana. Akhirnya mereka terpaksa demikian. Allahu A’lam.

    • Saya ‘panas’ sendiri liat pemberitaan di TV. Apalagi pas dialog dengan dokter kemarin; pas bagian keluarga pasien disuruh ungkapkan seluruhnya, pas dokter mau ngomong, mau menjelaskan eh malah dipotong. Bener-bener, deh. Jadi perbincangan hangat juga di kampus dan kami hanya bisa miris melihat dokter udah dihujat lantas ‘difitnah’ ini dan itu. MasyaAllaah.

  7. Salam kenal ya, ga sengaja nyasar ke blog ini….hehe

    wahh…tulisannya panjang ya, saya blm baca lengkap…tapi sekilas baca ttg dr. Zainal Muttaqien Sofro jadi inget ttg pengalaman saya dulu…

    waktu itu saya kelas 3 Smu di jogja, dr. Zainal pernah diundang tuk ngasih materi n motivasi serta pengalaman hidup n pendidikan beliau. Saya begitu terinspirasi mendengarnya dan sempet menemui dan menyalami beliau sambil berkata “dok, minta doanya semoga saya bisa jadi mahasiswa dokter suatu saat nanti…”

    eh, alhamdulillah doanya kesampean… ๐Ÿ™‚
    Saya masuk fk, dan disemester kesekian, dr Zainal kasih kuliah dikampus. Selesai materi lgsg saya maju n menyalami beliau… “dok, msh ingat saya tdk?” (pede banget ya? emg siapa elu? jelas dr Zainal mah udah ngga inget….hahaha)
    Terus saya ceritain deh pengalaman waktu di SMA dulu…. Beliau sih cm senyum sambil manggut2 doang….mgkn dr Zainal juga udah lupa…tapi saya masih ingat terus coz itu pengalaman yg berkesan buat saya…. ๐Ÿ™‚

    itu sih pengalaman saya, maap ya kalo kepanjangan….hehe

    • Ternyata nggak cuma saya ya yang terkesan ama beliau. Beliau itu memang salah satu dokter yang luar biasa; beruntung deh kita sempat ‘ketemu’ ama orang seperti beliau ๐Ÿ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s