Bukan Negeri Dongeng.

Bismillahirrahmanirrahim.

Kesalahan terbesar saya dalam hampir 21 tahun kehidupan *masyaAllah, guwah udah mau dua puluh satu taun!, bukan secara harfiah, adalah… jatuh cinta. Saya bukan nyalahin perihal jatuh cintanya tapi lebih ke ‘pengelolaan’ orang-orang yang kejatuhan cinta. Dan saya tersesat, salah arah.ย Kadang rasanya mau mewek kalo diinget-inget lagi, tapi anggap aja ini pelajaran buat orang yang belum atau sedang tidak jatuh cinta. Jangan sekali-kali coba jalan ‘itu’, sakit! ๐Ÿ˜ฅ

Saya termasuk pendamba romantisme. Walaupun sifat saya tomboy dan kelakuan saya beringas, tapi perasaan saya menye-menye sekali. Soal berapa kali pernah ‘suka’ ama laki-laki? Ohoo.. saya ini masih normal dan jejingkrakan kayak cengcorang juga kalo liat cowok cakep dikit :mrgreen:, tapi itu udah kayak ritual cowok-cakep-lewat-lirik-dikit-ya-udah-gitu-aja. Nggak pernah saya kemudian ampek apa ya namanya, cinta seluas samudera atau sedalam palung? Pokoknya itu lah. Khayalan tingkat tinggi saya jaman dulu cuma dapet laki cakep; badan tinggi, besar. Enough. Pas jaman masih alay, saya selalu menyempatkan berdo’a perihal jodoh dengan kalimat yang kurang lebih seperti ini; Ya Allah, buatlah hamba jatuh cinta hanya kepada seseorang yang menjadi suami hamba kelak. Hahaha. Pingin ketawa jadinya. Itu do’a khas buku-buku tentang cinta yang islami sekali ๐Ÿ˜ณ :lol:.

Dan akhirnya,ย kayaknya sih saya jatuh cinta. Pada laki-laki yang nggak pernah saya kira sama sekali. Tanpa pernah tahu wajah, latar belakang dan hal detail lainnya, saya bagaikan membeli kucing dalam karung. Nggak usah bayangin cerita romantis ala drama korea yang pada akhirnya saya alami; saya bertepuk sebelah tangan. Kurang lebih selama….. 3 tahun? Entah, lupa. Pokoknya nggak tau gimana ceritanya, ketika akhirnya saya hampir menyerah daaan merasa palingan itu cuma efek ‘darah muda’ saya yang sedang membara; akhirnya saya tau gimana rasanya ‘gayung bersambut’ itu.

Ibarat gorengan, berapa lama sih cinta tuh bisa ‘anget-angetnya’? Ralat. Berapa lama cinta tanpa pernikahan bisa bertahan? Jawabannya, kagak lama! Dan di situlah letak kesalahan besar saya. Jatuh cinta tanpa menikah. Bukan nggak mau, bukan nggak ‘usaha’, tapi Allah mencatat bahwa takdir saya menikah belum saat ini. Terus saya harus gimana?

Mau segimanapun ‘sesatnya’ saya, jujur aja, penyesalan itu ada. Kenapa saya harus jatuh cinta. Pada orang yang tidak belum saya ketahui tepat atau tidak. Sudah terlalu dalam ‘tanah’ yang digali dan saya akhirnya sadar ketika melongok ke atas; kami sudah menggali terlampau dalam, jauh dari permukaan. Jauh dari langit. Hilang. Tersesat. Kesalahan besar.

Kalau, saya bisa mengulang kembali hidup saya mulai dari tangisan pertama; saya tidak akan pernah mau menjadi saya yang sekarang. Sudah terlampau ‘busuk’ sampai ke dalam-dalam. Tapi hidup tidak pernah mengenal kata ‘kalau’. Semua sudah sesuai garis takdir, dan saya menempuh jalan buntu, jalan yang salah. Banyak kata-kata mengenai bahwa hidup terus berjalan, lupakan masa lalu, yang terpenting adalah masa depanย dan lain sebagainya, tapi tetep aja, jauh di dalam hati mesti ada rasa bersalah yang begitu besar. Seperti kanker. Metastasis ke seluruh raga; melemahkan angan.

Seperti nikotin; perasaan dan kesenangan yang tidak pada tempatnya itu candu, tapi terlaknat. Saya sudah berkali-kali ‘melarikan diri’, tapi selalu melihat ke belakang dan kembali.

Dan rupanya, seperti potensial aksi, perasaan cinta itu akhirnya mengalami repolarisasi. Awalnya saya ‘menepis’, menganggap debar jantung yang tak lagi berakselerasi ketika orang itu ada adalah keadaan yang biasa. 5 tahun, dan ‘lilinku’ akhirnya padam, bersama lelehan terakhir. Kekacauan. Hanya amarah yang sekarang saya perlihatkan pada orang itu. Tidak ada lagi perasaan, debar, bahagia. Saya tidak pernah menyangka pada akhirnya saya akan menuliskan cerita ini dengan akhir cerita yang jauh dari kata bahagia. Sad ending. Terjadi pada saya; yang selama ini mendambakan cerita cinta yang luar biasa, yang suatu hari bisa saya kisahkan pada dunia; kami akan selalu saling mencinta. ย Ternyata kisah saya sama saja dengan orang kebanyakan; lebih tragis malah. Kemudian saya memutuskan untuk benar-benar mengakhiri. Untuk apa menyambung benang putus? Untuk apa mencinta kalau sudah tidak ada rasa; alih-alih kecewa?

Hal ini sering menjadi ‘teman’ asik untuk saya melakukan perjalanan sambil melamun. Memikirkan semua yang sudah dialami, dilakukan dan kemudian disesali. Nggak jarang kemudian mata saya menjadi kabur tertutup helmet. Andai hidup bisa diulang; sayangnya hidup tidak mengenal pengandaian.

Kemudian, saya berpikir untuk ‘melepas’ khayalan saya. Entah kenapa, mungkin karena saya juga sudah tahu rasanya ‘menye-menye’, saya nggak minat lagi dengan dunia percintaan. Saya tidak lagi berpikir dan menggalaukan hal yang semacam itu, tidak lagi berharap-harap menyukai atau disukai seseorang, tidak lagi berharap punya seseorang di samping, tidak lagi menginginkan seseorang untuk melakukan banyak hal menyenangkan di dunia ini, tidak lagi membayangkan akan punya sebuah keluarga kecil yang bahagia, tidak lagi merisaukan tentang siapa dan di mana jodoh saya. Masa ‘labil’ saya sudah lewat. Pikiran saya kemudian berganti dengan bagaimana saya melewati masa muda saya dengan pencapaian-pencapaian; dunia – akhirat, dengan bagaimana saya bisa menyenangkan Ayah Ibuk, dengan bagaimana saya bisa keliling dunia, dengan bagaimana saya bisa sekolah yang tinggi; dan tetap sendiri. Terlalu banyak penyesalan dan saya ‘barang bekas’. Saya tidak cukup tega dan rela untuk siapapun yang kemudian ‘singgah’ di masa depan. Saya sendiri aja nggak rela; gimana orang lain. Seperti dahulu kala, lebih menyenangkan ‘menyukai’ tanpa harus benar-benar terlibat dalam suatu hubungan. Lebih menyenangkan berdebar-debar tanpa ada yang membalas debaran itu. Akhirnya paling cuma nangis, orangnya nikah, terus lanjutin hidup sambil hunting ‘mangsa’ yang baru. Begitu terus; like a cycle. Masa lalu saya sudah sangat banyak diisi keburukan, dan sekarang saatnya tutup buku. Selamat menempuh hidup baru, untuk saya. Dengan pertaubatan.

DSC_0118

Walaupun pada akhirnya, saya yang sudah bertekad kuat untuk tidak akan pernah jatuh cinta lagi, tetep menye-menye pas liat sepasang suami istri ‘menguarkan’ cinta yang kuat walaupun cuma di medsos. Saya iri; gimana suami mereka bisa sedemikian lembut dan menyenangkannya? Itulah ya, karena cinta mereka sudah diikat, mistaqan ghalidza. Jelas beda ama guwah yang menjalin ‘hubungan gelap’ :(.

Cukup orang itu; pertama dan terakhir, seiring akhir yang tidak sesuai dengan negeri dongeng yang saya ciptakan selama ini. Saya bener-bener ‘buta arah’ mengenai kemana jalan kisah percintaan saya ini sudah diatur olehNya; yang pasti saya ogah untuk menye-menyeย lagi. Kalau misal, nanti masih ada yang mau ama saya, ada dua hal yang harus terpenuhi; pertama, saya bakal nyeritain semua masa lalu saya ama dia. Walaupun masa lalu kita aib dan ama agama diizinin buat nutupin, tapi saya nggak mau seumur hidup ada ‘rasa bersalah’. He has to know ย a whole me; inside and outside. Kedua, kalau emang dia masih tetep ngotot mau ama saya setelah panjang lebar saya ceritain ‘sejarah’ hidup mulai dari brojol ampek saat itu, langsung aja ke babeh; kalau babeh-enyak oke, kagak ada kata siaran tunda, langsung nikah. Kalo bapak-enyak nggak oke, skip, saya nggak mau ambil konsekuensi mengalami ‘hubungan gelap’ untuk kali kedua. Islam tuh gampang aja, happy ending lagi. Guwah-nya aja yang terlalu terlena ama hawa napsu, jadinya begini deh :roll:.

Semoga bisa diambil pelajaran. Kita nggak bisa yakin ama masa sekarang; saya juga dulu yakin bakal cinta ama dia selama-lamanya; dan akhirnya? Nggak usah percaya ama cinta seorang laki-laki kalau emang nggak langsung dilabuhin ke pelaminan. Beneran, deh. Dan pada akhirnya saya cuma bingung mau buang puing-puing ‘kenangan’ ke mana, terlampau banyak. Bikin ribet aja.

โ€Cintailah orang yang engkau cintai itu sekedarnya saja, sebab barangkali suatu hari dia akan menjadi orang yang engkau benci, dan bencilah orang yang tidak engkau sukai itu sekedarnya saja sebab barangkali suatu hari dia akan menjadi orang yang kamu cintai.”

Kaliurang, 19 Oktober 2013 at 3.31 PM

Iklan

44 responses to “Bukan Negeri Dongeng.

  1. you’re not alone kok, fath. actually I’ve experienced it once dan the same goes with you, rasanya ada penyesalan yang luar biasa, ditambah rasa malu dan juga marah. malu karena ga bisa mengendalikan benih itu, marah karena udah tahu benih itu ditebar di saat yang ga tepat, malah dicoba untuk dipupukin.

    sekarang, kalo ingat tahun-tahun falling for nothing itu, rasanya saat menyukai orang jadi seperti tamparan keras. ingat, ingat. jangan ulangi kesalahan yang sama. jangan jatuh lagi pada perangkap yang serupa. kalau belum waktunya, tahan.

    but well, i can survive lah walau rasanya dulu hati terasa dicabik-cabik pas ngeliat foto pernikahan orang bersangkutan ahahaha (lha jadi curhat).

    • Huahahaha. Sekarang ya, aku jadi mikir; sebenernya bertepok sebelah tangan itu lebih menguntungkan. Gak jadi masuk dalam daftar panjang ‘hubungan gelap’. Yang jadi masalah tuh kalo ‘bersambut’, emang kuat apa buat nolak? Hahahahaha.

      • ideeem ahahaha setuju setuju, aku lebih baik bertepuk sebelah tangan jadi aku juga ga perlu mikir kemana-mana lagi dan setidaknya bisa menyemprotkan cairan pembunuh(?) ke benih perasaan yang ga tepat itu. kalopun seandainya bersambut, tapi kalau datang disaat yang ga pas gimana? misalnya kan ada kasus yang bersambut, tapi salah satunya minta menunggu beberapa tahun lagi gitu………..

      • Gini, Yun. Kalo aku, kasusnya bukan karena keduanya ada yang minta menunggu atau ditunggu tapi lebih ke perihal bahwa keduanya ‘belum’ bisa melanjutkan ke fase selanjutnya karena mentok di orangtua. Jadi, sebenernya ‘dua makhluk’ ini udah ‘siap’ untuk ‘ke sana’ tapi ibarat pintu masuk, nah pintu masuknya masih dijaga satpam yang tidak mengizinkan masuk. Kalo misal, ada kasus yang kau tanyakan di atas, kalo itu sih jelas gausah lah kalo aku. Tetep aja ‘hubungan gelap’, belum ada kesiapan, ngapain masih ‘berhubungan’. Begitulah. Pelik banget ye ๐Ÿ™„

  2. aku orangnya absurd, seharusnya suka sama yg romantis2an, tapi waktu hal itu dilakuin aku-nya yg ga tahan trus ketawa ngakak.

    well,, semua orang punya sisi tergelap.
    yg penting gimana kita harus bisa move on.
    tentang rahasia itu harus dikasih tau ke orang lain atau ga, itu keputusan sendiri.
    semangat, fath ^__^

    • Hahaha :lol:. Sebenernya ‘romantis’ versi aku tuh gak terlalu menye-menye sih, tapi entah ya kalo suatu hari beneran kejadian, seneng atau ketawa ๐Ÿ˜†

      Ho oh, ternyata move on rasanya seberat ini.
      Jazaakillahu khoyr kak Ncuss ๐Ÿ™‚

  3. Wahhhh, ternyata ini cerita lengkapnya,
    Setelah membaca sampai khatam, bingung mau bilang alhamdulillah atau subhanALLAH mba haha

  4. wow wow….curhatan mantan ABG (21 gitchuu). Seneng bacanya wkwk, karena di usia itu aku malah dah nikah. Jadi nggak lama2 berada di masa galau menanti jodoh. Galauku udah beda jenisnya :p

    Alhamdulillah udah nemu pencerahan ya, say good bye pada ababilisme *oposeeh* welcome to hijrah. Masa lalu jadiin spion ajalah.

  5. Tulisan yang khas wanita, yang keumumannya memang menggunakan 80% hati ketimbang otak, lalu endingnya sedih banget2, kenapa begini dan begitu, ya karena rasanya kebanyakan itu tadi sampai tenggelam2. Pada akhirnya, selalu pengalaman yang menjadi guru yang paling baik, bukan nasihat orang tua, bukan kata2 motivasi dari teman dan sahabat. Pada akhirnya, keputusan terbaik selalu diambil dengan pikiran yang jernih. Seringkali ketika bening hati itu muncul, misteri “kenapa dipertemukan dengannya?”, akan dikuakkan dengan jelas. Yang pasti, salah satunya adalah untuk mendewasakan diri kita…..

    • Hehehe, iya nih, Wak. Bingung mau komentar apa berhubung udah lama juga ‘kejadiannya’ dan udah lupa tuh ๐Ÿ˜›
      Tapi setidaknya ada banyak hal yang aku ‘dapati’ setelah peristiwa itu. Yes, mendewasakan diri sendiri ๐Ÿ™‚

  6. Baru 3th. Ga sampe 5th. Dan melupakan bisa bertahun2 sampai 7th. Hahaha parah maksimal itu y 7 th br bs move on. Tp dgn kputusan begini … saya senannnng fath liat kamu. Krn g jalan di tempat. Okeh deh tetap smngat dan jadi org yg bahagia …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s