June (4).

Bismillahirrahmanirrahim

Dulu aku tidak begini. Seperti anak baik yang selalu terlelap sebelum jam 10 tepat. Menjaga tubuh seakan takut penyakit merenggut nyawa. Menghindari racun yang berasal dari banyak hal. Sekarang berbeda. Jam 10 lewat 10. Aku teringat masa lalu di mana seseorang selalu senang kala ia melihat jam dan menit menunjukkan angka yang sama. ‘Liat jam, Fath, jam 22:22’, suaranya terngiang lagi di telinga. Aku tersenyum alih-alih tanpa sadar lakrimasi pun terjadi. Sudah berakhir.

Mengapa aku harus menangis? Setiap hari aku seperti mayat hidup. Bergelut dengan rutinitas harian, tersenyum pada dinding bisu dengan penuh kepalsuan. Aku memang butuh dunia luar untuk lupa, dan kembali menjadi pemurung ketika pulang ke sangkar. Aku tidak lagi peduli akan berat badanku yang naik turun kerap kali. Aku tidak lagi peduli berapa banyak racun yang siap menyedot nyawaku setiap hari. Aku tidak lagi peduli menjadi makhluk nokturnal karena kecemasan membuatku tidak kenal kata mengantuk; alih-alih menenggak cangkir-cangkir kafein yang dulu ku hindari. Katanya kafein tidak baik untuk kesuburan, tapi aku tidak peduli lagi.

Ini di mana kah? Neraka. Aku merasa selama ini mempunyai teman, tapi ternyata tidak. Aku masih selalu merasa kesepian dan memilih untuk mengurung diri di ruang sepi; lebih baik begini. Aku tidak tahu harus mengajak siapa, menangis ke mana, berpegang pada apa ketika rasanya sepi lagi-lagi menggerogoti. Dulu aku punya, tapi sekarang tidak lagi. Teman seperti hanya akan menjadi pajangan berdebu. Ada masa ketika kita sama-sama tertawa seperti orang gila dan menangis karena cerita hidup yang bagaikan menenggak pil pahit. Sekarang, kita seperti orang yang tidak pernah kenal di masa lalu; manusia berubah, sama seperti persepsiku tentang cinta: manusia yang berubah, cinta statis seperti konstanta.

Kau tahu apa itu namja? Kata dalam bahasa Korea yang paling ku sukai ketika aku menonton drama, melebihi sukaku pada kata sarang. Namja artinya pria. Ketika aku mendengarnya aku bisa merasakan kekuatan yang melekat pada diri seorang laki-laki dan hal itu bisa membuatku lupa bahwa semua yang dikatakan pria adalah nasi basi. Yang ku sukai dari seorang pria adalah tingginya yang menjulang dan bahunya yang bidang; seakan aku ingin berlabuh di sana dan menumpahkan bebanku tanpa harus banyak kata. Ketika SD, aku menjadi salah satu anak perempuan yang terbesar di sekolah, melebihi tinggi badan banyak murid laki-laki. SMP dan SMA tidak jauh beda. Aku tidak pernah tahu apa rasanya berbadan kecil dan terlihat rapuh. Aku didesain untuk menjadi pelindung. Dan sekarang aku sudah dewasa begini; menurut usia. Imajinasiku hanya soal bagaimana berpura-pura lemah dan mendapatkan pertolongan dari laki-laki. Lupakan saja. Aku tidak bisa berpura-pura; alih-alih malah meneriaki mereka dan mematahkan tulangnya jika ada yang berani cari gara-gara. Aku menyukai diriku yang seperti itu. Aku kuat.

Badanku mungkin kuat, tapi perasaanku sangat rapuh. Seperti gelas kaca yang hancur berkeping bila ia dibanting. Mereka yang melihat mengatakan aku baik-baik saja, tapi aku tidak baik-baik saja. Aku terlalu kesepian.

Harapanku terlalu drama. Apa itu naif? Berharap lebih terhadap sesuatu yang hampir tak mungkin. Aku naif. Apa karena aku terlalu lama menunggu? Ketika aku lebih muda, pikiranku sangat sederhana. Suapan cinta mampu membuatku menyerah terhadap dunia. Sekarang dunia yang membuatku menyerah akan cinta. Aku jadi banyak memperhitungkan materi yang digaung-gaungkan banyak pihak. Aku melepasnya pergi, seakan-akan aku bisa mendapat yang lebih baik. Tidak. Bila aku tahu suatu hari akan jadi begini, aku ingin terus menjadi muda. Bertambahnya umurku tak lantas menjadikanku dewasa, aku hanya jadi sampah seperti orang kebanyakan yang pikirannya melulu soal harta. Harta tidak bisa membeli kebahagiaan!

Ketika aku masih muda, aku terus berjuang menunggunya. Walaupun ia berbohong padaku, walaupun ternyata ia merangkai cerita indah dengan perempuan lain, walaupun dia berdusta aku yang pertama; aku percaya. Membuang banyak airmata dengan percuma dan selalu kembali walaupun kata akhiri sudah diucapkan kerap kali. Kenapa aku masih tetap tinggal? Dan pada akhirnya ketika cerita menjadi sesuai dengan inginku, ketika akhirnya ia menjadi satu-satunya yang mengetuk pintu, aku lantas ragu. Benar dia?

Ketika pertunjukan benar-benar siap digelar dan ia datang, aku melangkah mundur. Tidak. Bukan begini. Maksudku bukan begitu! Aku marah banyak kali. Makian. Teriakan. Tangis. Permohonan. Ragu-ragu. Tapi, kenapa tidak pernah ada perpisahan?

Ia datang. Aku ragu. Kemudian menyesali, tanpa bisa apa-apa. Aku harus bagaimana? Aku hanya tidak ingin merusak keadaan, menanggalkan semua kenyamanan yang ada. Aku harus bagaimana? Beritahu aku harus bagaimana?

tumblr_mgn89rQKcx1s21c78o1_500

Yogyakarta, 29 Juni at 10.47 PM

Iklan

6 responses to “June (4).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s