June (1)

Bismillahirrahmanirrahim

Di luar salju turun lebat. Menggumpal-gumpal seperti permen kapas yang dibuang cuma-cuma dari langit. Perempuan itu memandanginya dengan tatapan kosong. Iseng menghitung banyaknya yang, tentu saja, tak terhitung. Hanya sebagai ‘formalitas’. Membunuh waktu yang lagi-lagi mengajaknya bergelut. Satu dua, hitungan kesekian, hilang. Tentu saja, hatinya memang tidak tertuju ke sana. Kalau dia bisa membunuh, yang bernama waktu pasti sudah mati dari dulu. Akhir dunia? Tidak. Siapa dia. Setidaknya waktu yang ada di genggamannya, atau malah, waktu itu adalah dirinya sendiri?

Hari ini bulan Juni datang. Awal bulan. Membuatnya teringat tentang pengiring pengantin yang membawa ke pelaminan. Acak. Entah kenapa mendengar ‘awal’ dia teringat gambaran itu. Pengantin dengan baju indah senada langit, muka ceria seperti matahari, senyum yang senantiasa tersungging dan laki-laki yang berdiri di samping. Tak perlu heran mengapa di bulan Juni dingin sudah meliputi. Lagi-lagi waktu. Ia tersenyum. Senang bisa menumpahkan kesalahan ke hal lain. Dan waktu yang menjadi pilihan perempuan itu. Hey, bukankah waktu sudah sering dicaci banyak orang? Baik dari kata-kata pun puisi murahan?

Berjam-jam melihat ke luar jendela dan menghitung ribuan butir kaca, ia mulai bergerak. Meninggalkan kusen jendela dengan pot bunga di tepi kanan. Bunganya sudah layu, ia biarkan begitu. Mengurus hidup makhluk lain? Yang benar saja! Dirinya saja sudah mati, bernapas hanya karena alasan basi. Pelan-pelan dia berjalan menyusuri rumah besar itu, sampai di ujung, ada cermin. Cermin yang amat besar, sampai-sampai kau mengira ia bisa memberikan persepsi visual tentangmu bahkan sampai rongga terdalam. Perempuan itu terdiam, mendekat, menyentuh kaca itu. Dingin. Ia telusuri guratan wajahnya yang menggambarkan penuaan yang nyata. Badan besar dan tinggi, bagaikan bicara ke semua orang, aku tidak butuh dilindungi. Rambut berombak yang dia biarkan tergerai tak tertata. Usianya baru kepala dua, tetapi mengapa dia sudah sedemikian tua? Lagi-lagi waktu, batinnya.

Perempuan itu kaya. Orangtuanya kaya. Dulu, dia anak yang berbeda. Teman melimpah, dan dia humoris, senang membuat orang tertawa. Anak yang cerdas, dan manis kata cinta pertamanya. Cinta pertama? Bagaimana bisa orang yang begitu menyedihkan juga punya cinta pertama? Cinta pertamanya itu sang guru. Beberapa tahun menemaninya lewat surat yang rutin dikirim setiap minggu. Walaupun setiap hari bertemu, tapi mereka akan tersenyum malu-malu sambil lalu dan diam membisu. Tidak ada kata-kata. Tidak rela membiarkan orang lain mengetahui hubungan mereka. Maka itu, dia kirimkan surat dari kertas daur ulang setiap minggu. Hari Rabu. Entah mengapa ia memilih hari Rabu untuk mengirimkannya. Amplopnya terlihat usang dengan tulisan tangan yang itu-itu saja: pour ma bien-aimé, Forsythia. Ia akan menulis selembar, dua lembar, atau bahkan hanya beberapa kalimat secara acak. Tidak pernah sama. Menceritakan kehidupannya, saudara-saudaranya dan memberi perempuan itu harapan atas yang namanya cinta. Perempuan itu berdusta tentang ingin memiliki kakak laki-laki, dan ia yang menjadi pilihannya. Laki-laki itu menyetujui, tanpa pernah tahu bahwa hal itu akan menjadi korek yang siap membakar hubungan keduanya.

… sampai pada akhirnya laki-laki itu menikah. Dengan perempuan cantik yang warna kulitnya seputih salju. Rasanya mau gila. Cinta pertamanya pun habis dimakan waktu. Ia mengutuk dirinya sendiri, dan orangtuanya, yang selalu percaya pada satu kata: harapan. Seperti namanya, Forsythia, bunga yang menjadi simbol harapan. Omong kosong! Laki-laki itu memang tidak pernah berkata cinta padanya, hanya memberinya semangat, hanya memujinya, itu saja. Tapi hati perempuan itu melayang sampai ke awan. Bodoh.

Airmata perempuan itu turun satu-satu, menggelitik pipinya. Dia biarkan saja, dan menghitung jumlahnya. Lantas memandangi bulu matanya yang hitam dan bola matanya yang membening karena basah. Sejak hari itu, dia tidak pernah lagi percaya pada laki-laki. Perempuan itu bertanya, apa yang salah pada dirinya?

forsythia

— to be continued —
Kaliurang, 1 Juni 2013 at 9.50 AM
*menunggu ‘sedih’ datang lagi, biar bisa menulis dengan lancar :mrgreen:.

Iklan

2 responses to “June (1)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s