Rumah Coklat – Aceh.

Bismillahirrahmanirrahim

Masa libur adalah masa berleha-leha. Terlampau leha-leha sampai hidup hanya perlu memikirkan soal tidur – makan – ke kamar mandi – sholat – tidur lagi – makan lagi. That’s all. Hidup yang stagnan seperti itu ketika masa kuliah begitu didambakan, akan tetapi ketika sudah dialami menjadi sesuatu yang bisa dikatakan menjemukkan. Saya rasanya sudah hampir mati kebosanan dengan variasi makanan yang ada kawasan sekitar kampus dan kos tempat saya bernaung. Sebenernya kuliner di Jogja ada ratusan, tapi saya termasuk orang yang pilih-pilih dan susah kalo mau nyari makan. Sekalinya ada tempat yang mau saya kunjungi, saya tidak ada teman untuk diajak, jadi saya cenderung malas dan berleyeh-leyeh, hanya mengandalkan makanan beku yang tinggal digoreng sebagai asupan kalori untuk kegiatan dasar saya (re : bernapas, metabolisme tubuh).

Ceritanya, kemarin sore saya diajak oleh Bita dan Azizah ke suatu tempat yang bernama ‘Rumah Cokelat’. Saya tahu persis di mana tempatnya, karena letaknya tak jauh dari bunderan UGM dan Panti Rapih, tapi saya seringkali hanya melewati dan tidak berminat sama sekali ke sana walaupun saya bisa dibilang pecinta cokelat. Didorong dengan keinginan luhur untuk membuat badan saya bergerak, saya pun menyetujui jam perjanjian kumpul, pukul  18.45. Teman saya yang lain, Cheli, mengirim sms dan mengatakan hendak nebeng, saya menyetujui. Ketika menjelang maghrib hujan deras mengguyur membuat saya lantas urung, mengingat saya juga tidak punya jas ujan. Setelah maghrib, hujan pun reda, tapi rasa malas menggerayangi saya, apalagi tidak ada kabar berita dari yang lainnya, lantas saya kira acaranya batal. Ketika saya sms Bita, mereka mengatakan sudah berkumpul di tempat biasa, dengan kekuatan cahaya saya pun ganti kostum, jemput Cheli, dan bergabung dengan anak-anak kesepian lainnya. Kami berdelapan, ada saya, Amal, Bita, Azizah, Rara, Ida, Ayen, dan Cheli.

us

Singkat cerita, sampai lah kita di tekape. Itu kali pertama saya ke tempat tersebut yang bisa terbilang semacam cafe dengan kapasitas cukup kecil. Bolak-balik buku menu saya bingung, dan jadilah saya orang terakhir yang menyebutkan pesanan tanpa bayangan sama sekali. Karena saya haus, berbeda dengan teman saya yang lain yang memesan sebangsa es krim dan cake, saya memesan minuman minuman dingin yang berjudul ‘Vanilla Sky’. Dan kita pun menanti pesanan. Di ‘Rumah Cokelat’ tersedia makanan dengan bahan dasar cokelat yang diwujudkan dalam bentuk cemacem, ada minuman dingin, minuman hangat, berbagai macam cake, ada pancake, ada es krim, dan lain sebagainya. Jangan khawatir, di sana tetep ada es krim vanilla dan strawberry, bahkan makanan asin semacam sosis pun ada. Harganya bervariasi sekitar belasan ribu, jangan harap nemuin yang harganya seribuan, kalo itu sih beli aja cokelat superman yang jadul itu *LOL :P.

Pesanan datang, dan kami pun saling icip-mengicip pesanan satu sama lain. Saya yang anteng sendiri karena apa yang mau diicip. Bayangan saya akan minuman vanilla sesuai bayangan ternyata jauh beda. Wong itu coklat dingin biasa dengan es krim vanilla di atasnya. Toeng!~

cake 1

 


cake 3

 

cake 2

 

cake 4

 

cake 5

 

cake6

Sedikit mengenai cokelat yang saya baca dari buku menunya, jadi ternyata kenapa cokelat jadi simbol kasih sayang karena rasa cokelat lembut, manis, dan dapat lumer di mulut sehingga dapat menimbulkan kesan sensual bagi yang memakannya (baca kata-kata ‘sensual’ entah kenapa saya malah mikir kesan ‘mesum’ bagi yang memakannya, hahaha). Dulu, pas saya masih SMP, diceritain tentang sejarah Valentine Day yang merupakan tradisi kaum non-muslim dan kenapa sih harus ngasih cokelat segala? Nih, mumpung bulan Februari dan ngingetin yang muslim, kalian nggak usah deh ikut-ikutan yang namanya Hari Valentine. Udah gak dapet pahala, dosa yang ada, bahkan bisa menimbulkan kemaksiatan di mana-mana. Loh kok, kemaksiatan? Jadi tuh ternyata, kandungan di dalam cokelat bisa menimbulkan kesan nyaman, rileks, dan menaikkan gairah seksual bagi yang mengonsumsinya. Itu kenapa, banyak orang stres yang lantas mengonsumsi cokelat (selain karena ngonsumsi alkohol itu HARAM). Di dalam coklat terkandung phenylethylamine yang dapat membantu penyerapan dalam otak dan menghasilkan dopamine yang dapat menyebabkan rasa gembira, meningkatkan rasa tertarik, dan menimbulkan rasa jatuh cinta. Itu kenapa, ketika hari Valentine pada ngasih cokelat, karena dengan tradisi itulah kaum non-muslim ‘menarik’ lawan jenisnya dengan menimbulkan perasaan-perasaan di atas ketika mengonsumsi cokelat. Makanya, pada hari Valentine banyak kemaksiatan di mana-mana, karena ujung-ujungnya ya itu tadi, ‘jatuh cinta’ yang berakhir dengan ‘maksiat’. Tapi, bukan berarti kita jadi nggak boleh ngonsumsi cokelat ya, toh makan dan ngasih mengasih cokelat nggak harus pas tanggal 14 Februari, kapan saja bisa, dan niatnya bukan untuk ‘menarik’ lawan jenis,  beli sendiri juga bisa, saya juga termasuk penggemar cokelat, tapi yang saya herankan kok saya nggak gembira-gembira, ya? :D.

Sekian mengenai cokelat. Setelah semua makanan kandas, cacing-cacing dalam perut kami ternyata belum puas dan menuntut lebih, maka kami pun sepakat untuk ke tempat makan khas Aceh ‘Bungong Jeumpa’. Setau saya bungong jeumpa itu bahasa acehnya suatu jenis bunga sejenis bunga cempaka. Sekian. Daerah Bungong Jeumpa itu di.. mana, ya? Hahaha. Ada 3 tempat yang saya lihat di buku menunya, di timur Atmajaya (ke arah selatan jalan Monjali, terus belok kanan, deket RM Jepang Takigawa, atau dari tugu lurus terus lampu merah pertama belok kanan, letaknya di pertigaan pinggir jalan), di Seturan, dan satu lagi lupa di mana.

Tempatnya mirip warung makan biasa dengan semua pegawai perempuannya mengenakan jilbab. Wih~. Di sana-sini terdapat tulisan aceh yang saya sumpah nggak ngerti sama sekali dengan dekorasi dominan warna merah. Pilihan menunya ada banyak dan mirip-mirip makanan khas Timur Tengah. Ada nasi gurih dengan bermacam lauk, ada 21 macam nasi goreng dengan aneka toping yang berbeda, ada 21 macam mie aceh dengan toping beraneka, ada 17 macam martabak dengan kuah dan toping yang bikin perut goyang dombret. Untuk minumnya ada teh tarik, kopi aceh, es timun serut, dan lain sebagainya. Harganya berkisar dari 5 ribuan sampai belasan ribu. Karena saya nggak gitu pingin makan nasi, saya pun memesan mie aceh goreng dengan toping daging sapi. Teman saya yang lain ada yang mesen nasi goreng babat, nasi goreng rendang, mie aceh cumi, dan lain-lain. Oily time at 9 PM, hahaha!

aceh2

 

aceh1

 

aceh4

aceh3

Rasanya lumayan lah, saya lebih suka nasi gorengnya dibanding mie acehnya. Mie acehnya ampuuun, pedes banget. Buktinya pagi ini saya udah sukses nyumbang aset ke kamar mandi, hikikik. Saran saya sih, mending ke sana emang pas lagi laper-lapernya, jadi mau sepedes apapun kayaknya kandas saja ;).

Sekian laporan kuliner hari ini. Nantikan laporan kuliner selanjutnya.

Eat, pray, and love! v^ ^v

Yogyakarta, 5 Februari 2013 at 9.45 AM.

*Hari ini mau makan makanan khas Korea part 2! :9

n.b : telat mosting lagi karena keterbatasan internet, berasa hidup di jaman purba – -‘

 

Iklan

10 responses to “Rumah Coklat – Aceh.

  1. Waaaaahh.. Mau nasi goreng babat nya ituuuu.. Mungkin manteb tuh.. Babat kan enaaakkk..

    Klo cokelat nya, yg enak tuh yg dingin kayaknya.. Trus aku suka coklat yg warna nya emang coklat yg tanpa pewarna.. So milih cokelat yg mana nih.. Jika pengen itu..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s