Aku. Gila. Dunia. Amburadul.

Bismillahirrahmanirrahim…

Dunia. Entah mengapa aku sedang muak padamu. Mulai dari internet yang mati suri entah apa maunya, sedikit mati lalu minta hidup mati lagi dan memilih hidup, sampai aku bosan melihat perangkatmu yang lampunya hanya punya dua pertanda : MATI dan HIDUP. Aku yang hari ini tidak tidur sama sekali semenjak sahur tadi, dan entah apa yang membuat mataku terus menyala sampai detik ini. Aku yang dengan ganasnya menghabiskan 400 lebih halaman sebuah buku hanya dalam waktu tak lebih dari 4 jam saja! Mencengangkan. Aku dibuat konslet oleh buku yang membuat imajiku menjadi liar tak terbendung. See? Lihat saja aku berceloteh belepotan seperti ini tanpa ku tahu apa maksudnya… 

Sampai aku tersadarkan akan satu hal. Aku seperti bersandiwara selama ini… Aku seperti menjadi tukang koran yang tidak tahu berita paling hangat di negerinya sendiri. Seharusnya ia banyak tahu, tapi ia malah tidak mengenal bahkan apa yang sedang ia lakukan sebenarnya. Aku buta, tak terarah. Aku mencoba meraba hatiku, dan ku temukan. Aku berbohong selama ini. Aku membohongi diriku, membohongi dunia, bahkan membohongi kata BOHONG itu sendiri. 

Apa yang ku inginkan sebenarnya simpel.

Aku ingin menjelajah. Menghayati setiap jengkal yang ku lewati dengan arti. Bukan berpura-pura jadi orang lain demi menyenangkan orang lain. 

Dunia aku muak padamu. Karena dimensimu membuatku hanya menikmati setiap kebohongan yang ada di dunia ini. Milik orang lain. Milikku. Kau terus merayuku berbuat sesuatu yang bukan aku. Aku gila. Karena untuk disebut waras olehmu aku harus lagi melakukan kebohongan. Danaku membenci itu. Lebih baik aku jujur walau sampai gila, setidaknya aku menyelamatkan diriku dari sesuatu yang memang bukan aku.

Oh langit. Tampung kemuakkanku pada dunia. Sementara saja sampai dunia tak lagi merayuku untuk menambang kebohongan di kerak bumi. 

Aku meraba hatiku lagi lebih dalam. Terasa lengang. Ada sesuatu yang hilang dari sana tempat bersemayamnya sebuah rasa yang dulu membuatku jungkar balik menahannya. Kemana dia? Kemana ketukannya yang jauh berkurang sekarang? Lagi-lagi aku berbohong. Mungkin sekarang terasa tenang. Tapi kalau boleh jujur, aku lebih menikmati adanya ketukan itu yang bertalu dengan temponya yang amburadul, walau perih mengekangnya kencang. Sangat kencang. Sampai temponya semakin berantakan, berserak, mati…

Rumah, 150909 at 9.20 pm

*Ih wah. Aku sendiri gatau aku ini nulis apa.. suer sampe nangewer deh. Maklum aja situ gak ngerti, wong aku sendiri aja gak ngerti nulis apaan.. *haha* *

Iklan

10 responses to “Aku. Gila. Dunia. Amburadul.

  1. ngeces said: just voice inside your heart..you got to let it out.. who cares if someone doesn’t like it :Dcomment by Flippy

    yeah. itu ini belum semuanya fin. intinya belum dapet, gak bisa diuraikan.. *hah, lagak*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s