Rindu itu, titik!

Bismillahirrahmanirrahim…

“Kaaaaakkkkkk…”, lengking Ibuku dari lantai bawah, membangunkanku yang masih menggeliat dibalik selimut dengan mata terkatup. Perlahan kucoba membuka mata, huff, berat! Tapi mau tak mau, walau masih dengan rasa enggan aku pun bangun, dan melangkah menuju kamar mandi, berwudhu. Melakukan rutinitas (baca : kewajibanku), Sholat Shubuh.

Beberapa menit kemudian kuselesaikan kewajibanku itu. Turun kembali ke lantai satu, menghadap sang Ibu.

“Ibu beresin lantai bawah, bagianmu lantai atas, pel dan sapu yang bersih……”, tak perlu tahu kelanjutan kalimatnya pun aku sudah tahu tugasku. Segera kulangkahkan kaki, walaupun dengan malas dan setengah hati. Beruntung bagiku lantai atas tak pernah berantakan, karna aku menjaganya agar terlihat selalu rapi, well, agar tugas beres-beresku tidak terasa terlalu berat. Tidak sampai sejam, kutuntaskan pekerjaanku, kamar pun sudah rapi, ada rasa lega dan puas serta bangga (sedikit) dengan hasil kerjaku.

Masih terlalu pagi untuk mandi. Liburan memang membuatku malas! Apalagi dengan cuaca dingin bekas hujan semalam yang tak mau diajak kompromi. Aku bermalas-malas di sofa depan televisi sambil melanjutkan novel yang akhir-akhir ini tengah kusantroni. Indah. Kisah cinta vampir dan manusia , yang membuatku sering mendengar Edward Cullen, Isabella Swan, Charlie, Jacob Black, Billy, Harry Clearwater, Sam Uley, Quil, Alice, Carlisle, Esme, Emmet, Rosallie, Jesper, Volturi, Mark, Jessica, Angela, Ben, Emily, Leah, James, Laurent, Victoria, dan peran lainnya menari-nari di benakku. Oh! Bahkan aku hafal anggota keluarga Cullen dan beberapa peran figuran. Sungguh, aku lagi gila novel itu akhir-akhir ini .

Pukul 10.00 WIB…

“Kak, Ibu mau bayar SPP ke sekolah Abang, kamu mau ikut?”, suara Ibu mengagetkanku, tiba-tiba sekali.

“Hmmmm…”, hanya itu yang keluar dari mulutku. Mataku masih fokus ke novel yang sudah beberapa jam kupelototi.

“Ngapain? Emang ada orang disana?”, lanjutku bertanya setelah akhirnya mencerna pertanyaan Ibu dengan baik setelah berhasil mengalihkan perhatian dari novel itu.

“Ya, gak tau, Ibu mau ngajak Naura, naik angkot, jadi kamu kan bisa jagain..”, jelas Ibu.

“Aku ikut!”, mendengar nama adik kecilku, Naura, permintaan Ibu kupatuhi tanpa syarat. Lagipula aku sedang rindu dengan SMP-ku dulu. Rindu suasanya,guru-gurunya. Bergegas menyambar handuk, dan dengan cepat melesat memasuki kamar mandi. Novel itu seperti terlupa begitu saja, tergeletak diatas sofa.

Ketika aku keluar dari kamar mandi, nampak Ibu sudah siap, duduk menungguku.

“Buruan, udah siang…”, kulirik jam, hampir pukul 11. Aku pun segera melesat ke lantai atas, bersiap-siap. Kalang kabut memasukkan segala sesuatu yang harus kubawa ke dalam tas slempangku. Dompet, Kamera, Mukena, HP, dan tak terlupa, Novel (yang membuatku nyaris gila) .

“Kaaaaaaaaaaaakkkk..buruaaaaannnn…”, lengking Ibuku.

“Iya, iya, sabar…”, protesku kalang kabut, sambil membuka lemari baju dan menyambar sepasang kaus kaki bersih dengan cepat.

Bruk..bruk..bruk…

Langkahku yang setengah berlari menyebabkan bunyi berisik di lantai tangga yang terbuat dari kayu.

Dan pergi lah aku bersama Ibunda tercinta ke SMPIT Ummul Quro, sebuah tempat penuh kenangan………….ada yang indah setidaknya…

Ketika sampai disana, seperti ada magnet yang menarikku, menyuruhku mempercepat langkah, kerinduan akan sekolahku itu makin menggebu, jantung ini seperti dipompa lebih cepat dari yang seharusnya.

Kumasukki gerbang sekolah dengan perasaan tak keruan. Membuncah bahagia, tentu saja. Suasana ini, ah, setengah tahun sudah tak lagi kumerasakannya. Walaupun Sekolahku itu sekarang terasa lengang. Sudah masuk waktu libur. Tak ada dengung ramai para murid yang berada di dalamnya, tapi tempat itu, sekelebat bayangan akan memori masa lalu muncul. Indah. Inilah tempat dimana aku bertemu dengan guru, teman, saudara, bahkan kehidupan yang luar biasa! Tempat dimana, jika saat yang lalu aku tak berada disana, sekarang, entah apa yang sedang kulakukan, setidaknya aku tidak sedang menarikan jariku di atas keyboard laptop untuk menceritakan hal ini. Tidak mengenal blog, tidak mengenal MULTIPLY, dan oh! Tak mengenal kalian tentu saja! Sepertinya aku tak ingin membayangkannya.

Orang pertama yang kulihat (selain sepupuku, Filza, yang memang sedang menungguku dan Ibu menjemputnya di sekolah) adalah Pak Theady, guru TIK-ku ketika SMP. Guru yang hebat luar biasa, begitu menguasai pelajaran eksak, bisa dikatakan beliau amat pintar tentu saja, entah tangannya terbuat dari apa sehingga mampu membuat gambar yang luar biasa bagusnya, cukup dekat denganku ketika SMP, dengan anak-anak OSIS tepatnya. Melihat wajahku beliau menghentikan langkahnya, aku menghampirinya, bersiap menjawab pertanyaan yang kutahu akan terlontar dari mulutnya. Entah bagaimana seantero UQ sudah tahu bahwa terjadi ‘sedikit kecelakaan’ pada jariku.

“Gimana Fath tangannya?”, ekspresiku datar, sudah tahu bahwa beliau akan mengucapkannya.

“Ya lumayan baikan..”, jawabku. Ekspresi wajahnya seperti tak cukup puas dengan jawabanku, semacam meminta jawaban yang lebih jelas, lebih memuaskan dirinya, lebih tepat bila kukatakan memberitahunya bagaimana sebenarnya kejadian itu bisa terjadi.

“Ah, pokoknya gitu lah pak, ngeri nyeritainnya, yang penting tanganku udah gapapa, tinggal nunggu kering, dan kuharap bisa numbuh lagi..”, Aku tak peduli dengan tatap wajahnya yang penasaran, yang kemudian berubah menjadi seperti meringis, mungkin membayangkan bagaimana kalo beliau ada di posisiku, sebagai orang yang jarinya ‘kecelakaan’.

“Ya, semoga cepat sembuh..”, kata beliau akhirnya. Aku pun bertanya apakah guru-guru lain ada, beliau mengiyakan, mengatakan bahwa para guru sedang sibuk mengolah nilai, untuk rapot. Setelah itu beliau pergi.

Setelah obrolan singkat itu aku bertemu lagi dengan beberapa orang yang harus kuakui, aku amat rindu dengan mereka. Ada Bu Hetty dan para pegawai di tempatku membayar SPP dulu, dimana aku selalu membuat ribut ruangan tempat mereka bekerja, tapi sepertinya itu lah yang membuat mereka rindu padaku *hhi*. Ada Pak Asep, bapak petugas fotocopy yang selalu membuatku marah, kesal, apalah itu, dengan ulahnya yang selalu bersikap seolah mengajakku perang, tapi kemarin itu sungguh menyenangkan, beliau mengajakku mengobrol, seperti di masa lalu kita tak pernah berseteru. Lalu Bu Hana, Bu Hilda, Bu Silfi, yang sama seperti Pak Theady heboh menanyakan keadaan jariku, hmm, mungkin ada yang membuatku sedikit sedih, mereka menanyakan JARI-ku, bukan keadaan diriku sendiri . Tapi aku yakin, itu hanya karna mereka mencemaskanku. Kemudian Babeh dan pegawai kantin lainnya. Aku mencomot 2 buah donat yang biasa ku makan ketika SMP, rasanya tak berubah, enak .

Setelah puas berkeliling, aku pun memasukki gedung sekolah. Tak ada yang berubah, sedikit pun. Menuju lantai 2, memasukki ruang guru akhwat, dan aku merasa bahagia mendapat sambutan yang hangat dari mereka, dan tentu saja pertanyaan tentang jariku mencecar deras. Hiks, rindu ini…seperti lama sekali tidak bertemu. Lalu aku menuju Lab.Komputer, salah satu tempat kesukaanku ketika SMP. Tampak 2 guru yang puaaaling super didalamnya, Bu Ifat dan Bu Desvi, sibuk berhadapan dengan komputer, kuucapkan salam, pelan. Dan reaksi Bu Ifat sungguh tak terduga, beliau kaget ruaaarrr biasa dan mencecarku dengan pertanyaan yang lagi-lagi seputar jariku. Ada nada cemas dalam suaranya, tak kusangka beliau akan secemas itu. Ku katakan aku baik-baik saja, dan aku meminta maaf pada beliau lama tidak ikut liqo, disibukkan oleh kegiatan di SMA-ku sekarang, bahkan hari ahad! Beliau memakluminya. Lalu ke Bu Desvi, kuperlihatkan hasil ulangan ekonomi-ku yang membuat beliau berseru senang, alhamdulillah….

Setelah itu aku pamit kepada mereka. Ada rasa enggan, tapi harus. Perpisahan sesaat itu tiba lagi, akhirnya. Padahal aku kerinduanku itu belum puas terbayarkan. Kenangan masa lalu itu mencair dimataku, membayangkannya saja mampu membuatku menangis. Suara-suara masa laluku, dengan mereka, ah, bahkan mereka semuanya tak ada disini sekarang.

Dengan berat hati kutinggalkan gedung sekolah itu. Ketika sedang memakai sepatu sendal, kulihat dia! Ya, dia, yang selama beberapa waktu bersemayam di hatiku, awalnya membuat rasa bahagia, tapi sakit pada akhirnya. Dia yang sudah menggoreskan kekecewaan yang mendalam sehingga aku berpikir, sungguh aku tak berharga! Pikiranku itu bodoh tentu saja, diri ini berharga, lebih dari yang kutahu. Dia tak berubah, masih sama. Masih tampan dan kurus. Yang berubah dia sekarang sudah berstatus sebagai seorang suami dan seorang ayah. Jadi tidak ada alasan bagiku untuk mengganggu kehidupannya lagi. Tidak juga baginya. Dia hanya sekedar kenangan masa laluku yang indah…dan pahit. Kenangan pertama kali kubertemu dengannya di awal SMP-ku, awal masa remajaku, bagaimana semua itu terasa cepat, dan aku menjadi semacam dekat dengannya, dengan keluarganya, dia yang kuanggap kakak, dengan janjinya bahwa kita akan selalu menjadi saudara selamanya, dan yang pada akhirnya dia meninggalkanku dan melanggar semua janji yang telah kita sepakati bersama hanya karna dia akan menikah! Oh, sungguh saat itu aku amat sangat merasa menjadi makhluk yang paling menyedihkan. Ironis menyadari bahwa orang yang amat kau sayangi, memutuskan tali silaturahmi begitu saja karna akan menikah. Untuk hal itu aku tak tahu, apakah perbuatannya itu benar. Tapi seiring berjalannya waktu, rasa sakit itu hilang, kubiarkan semua kenangan itu terbang dibawa angin lalu. Aku memaafkannya, itu keputusanku. Dia memutuskan silaturahmi denganku, itu mutlak keputusannya. Tak ada yang bisa kuperbuat. Aku pun melangkahkan kaki ringan melewatinya. Melewati dia yang melihatku, tak tahu harus berbuat apa. Kusunggingkan sedikit senyum, berkata dalam hati. Kau hanya masa laluku, aku sudah memaafkanmu walau kau tak tahu itu, pergi dan berbahagialah, karna aku juga akan dan mungkin sudah bahagia, tanpamu…

Matahari terik menyengat kulitku. Adzan Dzuhur mendayu membelai gendang telingaku. Allah memanggil, aku pun melangkah menuju masjid, dimana disana, lagi-lagi, kukumpulkan keping kenangan yang bertebaran di setiap sudutnya. Kenangan. Yang membuatku rindu, tapi ku tahu, kita semua akan bertemu lagi pada akhirnya, di kemudian waktu. Semoga…

Bogor, 23 Desember 2008 at 23.47 PM

*Kutulis dengan hati basah, apakah kalian tahu, BAHWA AKU TERAMAT RINDU? Bener deh, kalo nggak tulisan ini gak akan pernah ada! *

My Beloved Teachers!!!

Kawan-kawanku*hhiks*

Menjelang Perpisahan itu…

Iklan

29 responses to “Rindu itu, titik!

  1. fathia27rhm said: Aku memaafkannya, itu keputusanku

    memaafkan,,, adalah sebuah keputusan yang bijak sayang,,,,dan itu sangat indah dari pada kita harus membenci nya,,,matahari masih akan terus bersinar dengan indah di setiap pagidan bulan pun akan bersinar indah tatkala kita memandangnya,,^_^

  2. Fathia pernah jatuh cinta pada gurunya sepertinya, dan guru itu sudah menjadi seorang ayah, beristri dan dikaruniai anak.Sekarang Fathia sudah mendapatkan gantinya belum?

  3. elrawn said: Fathia pernah jatuh cinta pada gurunya sepertinya, dan guru itu sudah menjadi seorang ayah, beristri dan dikaruniai anak.Sekarang Fathia sudah mendapatkan gantinya belum?

    sepertinya begitu….sampai sekarang ga ikhlas kah, Fath? sabar ya!!!semoga mendapat pengganti yang lebih baik, aamiin…—-kecil-kecil udah jatuh cinta pula (bayangkan SMP saudara…), beuh….Cinta itu apa Fath?

  4. dafa said: memaafkan,,, adalah sebuah keputusan yang bijak sayang,,,,dan itu sangat indah dari pada kita harus membenci nya,,,matahari masih akan terus bersinar dengan indah di setiap pagidan bulan pun akan bersinar indah tatkala kita memandangnya,,^_^

    iya, memaafkan itu indah. Lagian aku paling gak bisa marah, paling juga kesel dikit dan itu gak lama, aku sudah melupakannya, kak lina juga pasti bisa, semangadh! Ada yang lebih baik menanti kita insya Allah, siap-siap aja kakakku 😉

  5. elrawn said: Fathia pernah jatuh cinta pada gurunya sepertinya, dan guru itu sudah menjadi seorang ayah, beristri dan dikaruniai anak.Sekarang Fathia sudah mendapatkan gantinya belum?

    heheh, bukan jatuh cinta tepatnya, tak sampai tahap itu ^^, tapi lebih berat dari jatuh cinta, persaudaraan, lebih sakit dari patah hati, hhiksbelum, gantinya cuma suamiku kelak, insya Allah 🙂

  6. bram85 said: sepertinya begitu….sampai sekarang ga ikhlas kah, Fath? sabar ya!!!semoga mendapat pengganti yang lebih baik, aamiin…—-kecil-kecil udah jatuh cinta pula (bayangkan SMP saudara…), beuh….Cinta itu apa Fath?

    okeh, jatuh cinta..hmmm, wallahu a’lam deh, aku juga gatau namanya apa…siapa juga yang gak ikhlas, ikhlaaasss banget *halah*allahumma aamiin…cinta itu permen isi coklat, manis, enak banget :p *sotoy ayam mode ON*

  7. fathia27rhm said: heheh, bukan jatuh cinta tepatnya, tak sampai tahap itu ^^, tapi lebih berat dari jatuh cinta, persaudaraan, lebih sakit dari patah hati, hhiksbelum, gantinya cuma suamiku kelak, insya Allah 🙂

    baguslah kalo seperti itu adanya, jangan ampe keulang.

  8. fathia27rhm said: okeh, jatuh cinta..hmmm, wallahu a’lam deh, aku juga gatau namanya apa…siapa juga yang gak ikhlas, ikhlaaasss banget *halah*allahumma aamiin…cinta itu permen isi coklat, manis, enak banget :p *sotoy ayam mode ON*

    ikhlas itu susah…

  9. fathia27rhm said: dia yang kuanggap kakak, dengan janjinya bahwa kita akan selalu menjadi saudara selamanya, dan yang pada akhirnya dia meninggalkanku dan melanggar semua janji yang telah kita sepakati bersama hanya karna dia akan menikah!

    hmmm…jaditawdarimanasumberinsipirasicerpennyaFathia..:))

  10. fathia27rhm said: Ada yang lebih baik menanti kita insya Allah, siap-siap aja kakakku 😉

    amin, insyallah,,,kakak sudah memaafkannya,,, melihat mereka tersenyum bahagia,,,insyallah menjadi penawar nya,,, ^_^amiin,,, insyallah,, keep fight, keep hamasah,,and smiling,,semangaaaappp

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s